Judul buku :
Perkembangan peserta didik
Tim penulis : Drs. Amin Budiamin, M.pd.
Drs. H. Dedi Herdiana Hafidz, M.pd.
Drs. Daim, M.pd
Penerbit : UPI PRESS
Gedung penerbitan dan percetakan
Universitas Pendidikan Indonesia
Jl.
Dr. Setiabudi, No. 229 Bandung 40154 Tlp. (022) 2013163 pes.4502
Tahun terbit : 2006
Jumlah :
6 Bab pembahasan.
BAB
I
KONSEP
PERKEMBANGAN
A. JUMLAH
PERKEMBANGAN ANAK DIDIK
1. Pengertian
perkembangan dan pertumbuhan
Istilah
perkembangan seringkali di gandengkan dengan pertumbuhan dan kematengan.
Ketiganya memang mempunyai hubungan yang sangat erat. Pertumbuhan dan
perkembangan pada dasarnya merupakan perubahan, yaitu perubahan menuju tahap
yang lebih tinggi atau lebvih sempurna. Ada beberapa perbedaan antara
pertumbuhan dengan perkembanagan. Pertumbuhan lebih banyak berkenaan dengan
aspek-aspek jasmaniah atau fisik, sedang perkembangan menyangkut aspek-aspek
psikis atau rohaniah. Pertumbuhan menunjukan perumbuhan atau penambahan secara
kuantitas, yaitu penambahan dalam ukuran besar atau tinggi, sedang perkembangan
berkenaan dengan peningkatan kualitas, menurut Santrock & Yusen (1992) perkembangan adalah pola
perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlangsung
sepanjang hayat.
Namun perlu diingat bahwa tiedak setiap
perubahan yang dialami organisme atau individu itu merupakan perkembangan, (Bjorklund
& Bjorklund, 1992) pengalaman –pengalaman atau aktivitas-aktivitas
khusus anak dapat menimbulkan perubahan pada diri yang bersangkutan, misalnya
seorang anak yang berlatih menari menjadi terampil menari. Singkatnya dapat di
simpulkan bahwa pengertian pertumbuhan tercakup dalam pengertian perkembangan,
namun tidak setiap perubahan dalam arti perkembangan merupakan pertumbuhan,
namun tidak setiap perubahan dalam arti perkembangan evolusi (menuju ke arah
yang lebih sempurna) sedangkan perkembangan dapat pula mencakup
perubahan-perubahan yang bersifat involusi (penurunan dan perusakan menuju kea arah
kematian).
2. Anak
Sebagai Suatu Totalitas
Anak
sebagai suatu totalitas adlah sebagai suatu organism atau individu yang
merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi dari keseluruhan organ fisik dan aspek psikis yang terdapat dalam dirinya,
keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak tersebut saling terjalin satu
sama lain. Karena itu, perbedaan anak dengan
orang dewasa tidak hanya terjadi dalam aspek fisik atau psikis,
melainkan secara keseluruhan.
3.
Perkembangan Sebagai Proses Holistik
dari Aspek Biologis, Kognitif, dan Psikososial
Kalau mengamati prakteknya, anda bisa melihat
tentang bagaimana proses-proses biologis mempengaruhi proses perkembangan
kognitif, proses-proses psikososial
mempengaruhi pertumbuhan biologis, dan sebaliknya, sebagai missal, anak yang
mengalami kelainan dalam organ suara dapat mengalami keterlambataan dalam
perkembangan bahasanya, dan pada
gilirannya juga dapat mempengaruhi perkembangan psikososialnya ini
menggambarkan bagaimana saling terjalinnya antara aspek perkembangan yang satu
dengan yang lainnya. Karena itu, meskipun untuk kepentingan pemahaman disini
dilakukan pengelompokan tentang domain-domain proses perkembangan, namun
ingatlah bahwa anak itu tetap merupakan suatu organism yang terintegrasi, hanya
memiliki satu jiwa dan raga.
1. Kematangan
Vs Pengalaman dalam perkembngan Anak
Dalam
prakteknya, menentukan kontribusi kematangan (pembawaan) dan pengalaman
(lingkungan) terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu secara pasti akan
sangat sulit dilakuakan. Kualitas aspek pertumbuhan dan perkembangan yang sama
bisa dihasilkan dari campuran pengaruh unsur genetik dan keadaan lingkungan
yang berbeda. Namun dalam kondisi tertentu,
mengetahui pengaruh relatif dari dua faktor tersebut kadang-kadang
penting untuk dilakukan. Misalnya, jika seorang anak memiliki bobot tubuh yang
terlebih, maka untuk menentukan treatmen apa yang tepat, perlu diketahui
terlebih dahulu sumber-sumber yang menyebabkan bobot fisik yang terlebih
tersebut. Jika hal itu disebabkan oleh unsur genetik, maka bentuk teritmen-nya
akan lain dengan yang disebabkan oleh faktor lingkungan.
2. Kontinuitas
Vs Diskontinuitas dalam perkembangan
Para
ahli teori kontinuitas berpendapat bahwa perilaku-perilaku awal secara bersama
akan membangun dan membentuk perilaku-perilaku selanjutnya atau sekurang
kurangnya perkembangan-perkembangan awal itu meiliki keterkaitan dengan
perkembangan selanjutnya. Sebaliknya, para ahli teori diskontinuitas menyatakan
bahwa beberapa aspek perkembangan muncul secara indenpenden dari apa yang sudah
muncul sebelumnya dan tak dapat diperedeksi dari perilaku-perilaku sebelumnya.
B. PERKEMBANGAN
ANAK SEKOLAH
Proses berlangsungnya perkembangan
1. Masa
Bayi 0-2 tahun
2. Masa
kanak-kanak 2-11 tahun
3. Masa
remaja 11-19 tahun
4. Masa
dewasa 20-81 tahun
Dalam
setiap periode perkembangan tertentu akan muncul suatu kemampuan bertingkah
laku tertentu. Setiap anak yang berada dalam periode perkembangan itu akan
memperoleh kemampuan bertingkah laku yang sesuai dengan ciri-ciri khas kemampuan
bertingkah laku pada periode itu. Ini berarti bahwa anak itu memiliki
perkembangan yang sempurna.
A. Prinsip-prinsip
perkembangan anak tingkat sekolah dasar
Anak
sekolah dasar, menjalani dinamika perkembangannya dengan aturan-aturan tertentu
yang disebut prinsip-prinsip perkembangan. Prinsip-prinsip dalam dinamika
perkembangan anak itu secara alami. Prinsip-prinsip tersebut ialah:
1. Prinsip
kesatuan organis
2. Prinsip
tempo dan irama perkembangan
3. Prinsip
kesamaan pola
4. Prinsip
kematangan
5. Prinsip
kontinuitas
C.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
ANAK SEKOLAH DASAR
A. Faktor
keturunan
Keturunan
atau pembawaan dalam bahasa Inggrisnya heredity
merupakan segala ciri, sifat dan kemampuan yang dimiliki individu karena
kelahirannya. Ciri, sifat dan kemampuan-kemampuan tersebut dibawa individu dari
kelahirannya, dan diterima sebagai keturunan dari kedua orang tuanya.Ada dua
jenis sifat yang diturunkan secara bereditas yaitu sifat intelektual dan sifat
temperamen (kepribadian). Setiap anak mewarisi
kualitas intelektual dan temperamen yang berbeda.
1.
Sifat-sifat yang diturunkan secara
heriditas
Ada dua jenis sifat
yang diturunkan secara heriditas yaitu sifat intelektual, dan sifat tempramen
(keperibadian).
2.
Prinsip-prinsip penurunan sifat-sifat melalui
heriditas
Seperti telah
dikemukakan terdahulu, bahwa penurunan sifat-sifat melalui heriditas adalah
melalui Gen. ada 4 (empat) prinsip-prinsip penurunan sifat secara hereditas
yaitu prinsip Reproduksi, prinsif
Konformitas, prinsip Variasi dan prinsip Regresi filial.
B.
Faktor lingkungan
Lingkungan
menentukan penyelesaian tugas-tugas perkembangan sesuai dengan pola yang
ditentukan heriditas. Dengan kata lain lingkungan yang menentukan apakah
potensi-potensi yang diturunkan melelui gen akan teraktualisasi secara optimal
atau tidak. Lingkungan yang merangsang anak belajar secara optimal dapat
mengembangkan seluruh potensi anak. Sebaliknya lingkungan yang mengabaikan atau
tidak merangsang anak untuk berpengalaman menyebabkan potensi-potensi itu akan
tetap tersembunyi. Pengaruh lingkungan dapat dibagi 2 yaitu lingkungan non
social dan lingkungan social.
1.
Lingkungan non social
a)
Gizi
Anak
sebagai manusia memiliki kebutuhan fisik, seperti makanan yang bergizi dan
mengandung vitamin, suasana yang tentram, air udara yang bersih serta cahaya
yang cukup. Anak akan mencapai tugas-tugas perkembangan dengan baik kalu
kebutuhan fisiknya terpenuhi. Ada beberapa pengaruh yang buruk terhadap
pekembangan mental anak jika anak kekurangan gizi. Misalnya anak mengalami
gangguan emosi, anak mengalami gangguan mental rendah dan keabnormalan fisik,
anak mengalami pertumbuhan syaraf otak
yang kurang sempurna dan anak mengalami ketegangan psikologis.
b)
Suasana lingkungan
Lingkungan
yang baik sehat dan terjaga. Akan
membawa anak ke tahap yang baik ddalam belajar dan jauh dari penyakit.
2.
Lingkungan sosial
Lingkungan
sosial adalah tempat terjadinya hubungan sosial antara seseorag dengan orang
lain. Dalam lingkungan sosial akan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.
Lingkungan sosial anak meliputi keluarga, sekolah dan teman sebaya.
a)
Lingkungan keluarga
Keluarga
merupakan untit social yang pertama dijumpai anak dalam hidupnya, oleh karena
itu pengaruh keluarga terhadap perkembangan anak sangat besar sekali. Dari
keluargalah anak akan memperoleh konsep diri, peranan yang harus diperankan
sesuai dengan jenis kelamin, keterampilan sosial maupun intelektual.
b)
Lingkungan sekolah
Suasana
sosial emosional dalam kehidupan akademis disekolah sangat mempengaruhi proses
belajar anak sekolah dapat membentuk keterampilan sosial emosional dan
intelektual anak. Penelitian yang dilakukan oleh Boyutton, daggu dan turner
(stagner 1961) menunjukan bahwa jika
guru selalu dalam ketegangan psikologis maka murid-muridnyapun mengalami
ketegangan psikologis seperti yang dialami gurunya. Guru yang pemarah, pengomel
dan cerewet , menyebabkan muridnya meniru tingkah laku gurunya tersebut.
c)
Lingkungan teman sebaya
Anak
sekolah dasar lebih banyak berinteraksi dengan teman sebaya dari pada dengan
orang tuanya. Berkelompok dengan teman sebabya merupakan suatu kebutuhan bagi
ank. Oleh karena itu periode sekolah dasar disebut periode usia kelompok,
karena memperlihatkan keinginan yang kuat untuk diterima oleh kelompok sebaya,
anak pada usia ini sangat takut terhadap
penolakan kelompok. Oleh karena itu, anak berusaha sekuat-kuatnya untuk
menyesuaikan dirinya dengan standar bertingkah laku yang dibenarkan oleh
kelompok.
BAB II
TUGAS
PERKEMBANGAN DAN PERKEMBANGAN BERPIKIR ANAK SEKOLAH DASAR
1.
TUGAS PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI DAN
KANAK-KANAK
1.
Konsep tugas perkembangan
Havighurst
memberikan rincian tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan individu
pada setiap tahap perkembangan. Menurut dia ada empat tahap besar perkembangan
individu, yaitu : Masa bayi dan kanak-kanak, masa anak, masa remaja, yang
terbagi lagi atas dewasa muda, dewasa, dan usia lanjut.
2. Tugas-tugas
perkembangan masa bayi dan kanak-kanak
Pada
beberapa bulan pertama dari
kelahirannya, aspek yang memegang peranan penting dari bayi adalah
sekitar mulutnya. Mulut bukan hanya alat makan dan minum tetapi juga alat
komunikasi dengan dunia luar. Bayi mendapatkan beberapa pengalaman dan rasa
senang melalui sentuhan-sentuhan dengan mulutnya, baru selanjutnya mata,
telinga dan tangan berperan sebagai alat penghubung dengan dunia luar. Beberapa
tugas perkembangan yang muncul dan harus dikuasi ole hank, yaitu:
Ø Belajar
berjalan
Ø Belajar
mengambil makanan
Ø Belajar
berbicara
Ø Belajar
mengontrol cara-cara buang air
Ø Belajar
mengetahui jenis kelamin
Ø Mengetahui
stabilitas jasmaniah
Ø Memiliki
konsep sosial dan fisik walaupun masih sederhana
Ø Belajar
hubungan baik dengan orang tua
Ø Belajar
membedakan mana yang baik dan tidak baik
2.
TUGAS PERKEMBANGAN AKHIR MASA
KANAK-KANAK DAN REMAJA
1.
Tugas perkembangan akhir masa
kanak-kanak
Kalau
pada masa bayi dan kanak-kanak, dunia anak lebih banyak dalam rumah dan
keluarganya, maka pada masa akhir kanak-kanak yang berusia antara 6-12 tahun,
dunianya lebih banyak di sekolah dan lingkungan sekitar. Sejalan dengan itu ada
3 dorongan besar yang dialami anak pada masa ini: (1) dorongan untuk keluar
dari rumah dan masuk kedalam kelompok sebaya (peer group), (2) dorongan fisik
untuk melakukan berbagai bentuk permainan dan kegiaatan yang menuntut keterampilan/gerakan
fisik, dan (3) dorongan mental untuk masuk ke dunia konsep, pemikiran,
interaksi dan simbol-simbol orang dewasa.
Ø Tugas
perkembangan anak menurut Havighurst :
a)
Mempelajari keterampilan fisik yang
diperlukan untuk melakukan berbagai permainan
b)
Membina sikap hidup yang sehat terhadap
diri sendiri, sebagai individu yang sedang berkembang
c)
Belajar bergaul dengan teman sebaya
d)
Mulai mengembangkan peran sesuai dengan jenis
kelamin secara tepat
e)
Mengembangkan keterampilan-keterampilan
dasar untuk membaca, menullis dan berhitung
f)
Mengembangkan konsep-konsep yang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari
g)
Mengembangkan kata hati, moral dan skala
nilai
h)
Mengembangkan sikap terhadap kelompok
dan lembaga-lembaga sosial
i)
Mencapai kebebasan pribadi
Ø Tugas
perkembangan anak menurut Erikson
Periode
anak umur 6 – 11 tahun ini disebut sebagai periode aktif. Erikson menamakan
demikian karena dominannya kegiatan anak-anak yang berada dalam periode ini
untuk melakukan sesuatu sampai berhasil. Identitas diri juga akan meningkat,
dan akan dicapai secara sempurna pada periode berikutnya.
Pengalaman
anak di sekolah dapat mempengaruhi perasaan sukses ataukah gagal dalam diri
anak. Seorang anak yg lambat belajar (IQ
± 80-90) sebelum masuk sekolah memiliki perasaan sukses (aktif-produktif),
karena orangtuanya menghargai dan menyokong segala hasil pekerjaannya. Tetapi
di sekolah ia mengalami perasaan pahit, karena ia tidak mampu menyelesaikan
tugas-tugas sekolah seperti teman-temannya yang lain dan guru sering
mencelanya. Akibatnya anak mengalami perasaann gagal dan tidak berdaya.
2.
Tugas-tugas perkembangan pada masa
remaja
Adolesen
atau remaja merupakan masa peralihan antara, masa anak dengan dewasa. Karena
masa transisi antara masa anak dan dewasa, maka pada masa ini terjadi berbagai
gejolak atau kemelut.
Beberapa
tugas perkembangan yang harus diselesaikan para remaja pada masa ini adalah:
1)
Mampu menjalin hubungan yang lebih
matang dengan sebaya dan jenis kelamin lain.
2)
Mampu melakukan peran-peran sosial
sebagai laki-laki dan wanita
3)
Menerima kondisi jasmaninya dan dapat
menggunakan secara efektif.
4)
Memiliki ke berdirisendirian emosional
dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
5)
Memiliki perasaan mampu berdiri sendiri
dalam bidang ekonomi.
6)
Mampu memilih dan mempersiapkan diri
untuk sesuatu pekerjaan.
7)
Belajar mempersiapkan diri untuk
perkawinan dan hidup berkeluarga.
8) Mengembangkan
konsep-konsep dan keterampilan intelektual untuk hidup bermasyarakat.
9) Memiliki
perilaku sosial seperti yang diharapkan masyarakat.
10) Memiliki
seperangkat nilai yang menjadi pedoman bagi perbuatannya.
3. Tugas-tugas
perkembangan pada masa dewasa
Havighurst membagi kehidupan masa
dewasa ini atas tiga fase,yaitu : dewasa muda, dewasa dan usia lanjut.
Beberapa tugas yang harus
diselesaikan pada fase dewasa muda adalah:
1) Memilih
pasangan hidup
2) Belajar
hidup bersama pasangan hidup
3) Memulai
hidup berkeluarga
4) Memelihara
anak
5) Mengelola
rumah
6) Memulai
kegiatan pekerjaan
7) Bertanggung
jawab sebagai warga masyarakat, warga Negara
8) Menemukan
persahabatan dalam kelompok sosial
4. Tugas-tugas
perkembangan pada masa dewasa
Pada masa ini tugas-tugas
perkembangan yang harus diselesaikan adalah:
1) Memiliki
tanggung jawab sosial dan kenegaraan sebagai orang dewasa
2) Mengembangkan
dan memelihara standar kehidupan ekonomi
3) Membimbing
anak dan remaja agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
4) Mengembangkan
kegiatan-kegiatan waktu senggang sebagai orang dewasa.
5) Membina
hubungan dengan pasangan-pasangan keluarga lain sebagai pribadi.
6) Menerima
dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisik sebagai orang setengah
baya.
7) Menyesuaikan
diri dengan kehidupan sebagai orangtua yang bertambah tua.
3. PERKEMBANGAN
BERFIKIR ANAK SEKOLAH DASAR
A. Tinjauan
Selintas Teori Perkembangan Berfikir Menurut Piaget
Piaget
merupakan seorang ahli psikologi yang memberikan sumbangan pikiran yang sangat
besar dalam psikologi berfikir. Piaget berpendapat bahwa dimanapun anak di
seantero dunia ini, akan mengalami empat periode perkembangan berfikir yang
berlangsung dari lahir sampai remaja. Periode-periode itu adalah periode
berfikir sensorimotorik, periode berfikir preoperasional, periode berfikir
konkret, dan periode berfikir formal atau abstrak.
1. Perkembangan
Berfikir Sensorimotorik 0 – 2 Tahun
Periode
sensorimotorik dinamakan demikian karena anak memahami lingkungannya dengan
melalui penginderaan (sensori) dan melalui gerakan-gerakan (motorik). Periode
sensorimotorik dapat dibagi menjadi enam, dengan menampakkan kemampuan
bertingkah laku yang berbeda.
a. Umur
1 bulan (fase pertama)
1) Kemampuan
berfikir reflek
2) Kemampuan
menggerak-gerakan anggota badan walaupun belum terkoordinasi.
3) Kemampuan
untuk mengakomodasi dan mengasimilasikan berbagai kesan yang diterimanya dan
lingkungannya.
b. Umur
1 – 4 bulan (fase kedua)
Kemampuan memperluas schemata yang
dimilikinya secara heriditas.
c. Umur
4 – 8 (fase ketiga)
Dipahaminya hubungan antara
perlakuannya terhadap benda dengan akibat yang terjadi pada benda itu.
d. Umur
8 -12 bulan (fase keempat)
1) Kemapuan
memahami bahwa benda “tetap ada” walaupun untuk sementara menghilang, dan pada
waktu yang akan datang dapat muncul kembali.
2) Kemampuan melakukan berbagai percobaan
(eksperimen)
3) Kemampuan
menentukan tujuan kegiatan tanpa tergatung kepada orangtua
e. Umur
12 – 18 bulan (fase kelima)
1) Kemampuan
untuk meniru
2) Kemampuan
untuk melakukan berbagai eksperimen terhadap lingkungan lebih lancer
f. Umur
18 – 24 bulan (fase keenam)
1) Kemampuan
untuk mengingat dann berfikir
2) Kemampuan
untuk berfikir dengan mempergunakan symbol-simbol bahasa sederhana
3) Kemampuan
berfikir untuk memecahkan masalah sederhana, sesuai dengan tingkat
perkembangannya
4) Kemampuan
memahami diri sendiri sebagai individu mulai berkembang.
2. Perkembangan
Berfikir Preoperasional 2 – 6 tahun
Penggunaan
istilah operasi disini dimaksudkan sebagai gambaran bahwa anak telah
mempergunakan aktivitas mental dan berfikir.
Suatu
ciri khas perkembangan berfikir anak pada periode berfikir preoperasional
adalah cara berfikir mereka yang egosentris. Artinya anak menganggap benar apa
yang ada dipikirannya, walaupun apa yang dipikirannya itu tidak sesuai dengan
kenyataan yang ada. Tingkah laku anak yang sedang dalam berfikir egosenttris
dapat dilihat dari tingkah laku – tingkah laku berikut ini, yaitu :
a. Berfikir
imajinatif
b. Berbahasa
egosentris
c. Memiliki
“aku” yang tinggi
d. Menampakkan
dorongan ingin tahu yang tinggi
e. Perkembangan
bahasa yang pesat
3. Periode
Berfikir Konkret 6/7 – 11/12 Tahun
Dikatakan periode
berfikir konkret, karena pada periode ini anak hanya mampu berfikir dengan
logika jika untuk memecahkan persoalan-persoalan yang sifatnya konkret atau
nyata saja, yaitu dengan cara mengamati atau melakukan sesuatu yang berkaitan
dengan pemecahan persoalan-persoalan tersebut.
4. Perkembangan
Berfikir Normal
a. Kemauan
berfikir abstrak, yaitu kemampuan menghubungkan berbagai konsep tanpa disertai
peristiwa atau benda-benda konkret.
b. Kemampuan
berfikir logis dengan objek-objek yang abstrak.
c. Kemampuan
untuk mengintropeksi diri sendiri, sehingga kesadaran diri sendiri tercapai.
d. Kemampuan
untuk membayangkan peranan-peranan yang akan diperankan sebagai orang dewasa.
e. Kemampuan
untuk menyadari dan memperhatikan kepentingan masyarakat di lingkungannya dan
seseorang dalam masyarakat tersebut.
Dengan dicapainya
berbagai kemampuan seperti di atas maka anak telah mencapai kemampuan berfikir
sebagai orang dewasa.
B. Kemampuan
Berfikir Anak Tingkat Sekolah Dasar
Ada
berbagai kemampuan yang dimiliki dimiliki anak dengan di capainya kemampuan
berfikir konkret, yang perlu diperhatikan oleh para pendidik disekolah dasar
yaitu sebagai berikut :
1. Kemampuan
berfikir dengan mempergunakan symbol-simbol
2. Kemampuan
berfikir tetap (konservasi)
3. Kemampuan
memahami bahwa objek dapat dikelompokkan menurut kriteria tertentu.
4. Kemmampuan
memahami konsep identitas
5. Anak
pada periode konkret akan memahami konsep-konsep kompensasi atau suatu
perubahan yang bersifat timbal balik.
Sekolah merupakan
lembaga formal yang diberi tanggung jawab untuk meningkatkan perkembangan anak,
termasuk perkembangan berfikir mereka. Oleh karena itu guru hendaknya menyadari
betul bahwa pengembangan berfikir anak terletak di tangannya. Banyak cara yang
dapat dilakukan oleh guru dalam meningkatkan perkembangan berfikir anak sekolah
dasar, diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Menciptakan
interaksi yang akrab dengan murid.
2) Menurut
Piaget yang dikemukakan oleh Thongburg (1984), interaksi dengan orangtua atau
objek-objek di lingkungan asli anak mempunyai pengaruh yang lebih kuat terhadap
perkembangan berfikir anak daripada pengaruh yang ditimbulkan oleh pengetahuan.
3) Meningkatkan
kemampuan berbahasa murid.
4) Menjaga
dan meningkatkan pertumbuhan fisik anak.
BAB
III
PERKEMBANGAN
BIOLOGIS DAN PERSEPTUAL ANAK
1. FAKTOR
HEREDITAS DAN LINGKUNGAN DALAM PERKEMBANGAN ANAK
a. Mekanisme
Pewarisan Secara Genetik
Setiap sepsies,
termasuk manusia memiliki suatu mekanisme tertentu untuk mewariskan
karakteristik-karakteristik bawaan dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
b. Prinsip-prinsip
Pewarisan Secara Genetik
Penentuan pewarisan
secara genetic merupakan masalah yang sangat kompleks sehingga masih banyak
aspek yang belum diketahui secara pasti tentang hal tersebut. Namun demikian,
beberapa prinsip genetika telah ditemukan oleh para ahli, yakni sebagai berikut
: Gen-gen dominan-resesif, gen-gen jenis
kelamin, karakteristik-karakteristik yang diwariskan secara poligenik,
perbedaan genotip-penotip, rentang reaksi, dan kanalisasi (Santrock &
Yussen, 1992).
c. Pengaruh
Internasional antara Faktor Heriditas dan Lingkungan dalam Perkembangan
Pemahaman
terhadap mekanisme dan prinsip-prinsip pewarisan genetika dengan sendirinya
telah memberikan dasar pemahamantentang bagaimana faktor keturunan dan faktor
lingkungan berperan dalam perkembangan individu (manusia). Gen-gen yang di
warisi dari orang tua telah membuat kode-kode informasi genetik sehingga
berperan sebagai “blueprint” bagi perkembangan individu. Sebaliknya,
perkembangan interaksional tempat individu tumbuh dan berkembang berperan
sebagai sarana yang dapat memfasilitasi atau membatasi teraktualisasikannya
karakteristik-karakteristik potensial yang diwarisi individu secara genetik.
Interaksi
pengruh genetika dan lingkungan bisa terjadi dalam hubungan yang aktif atau
sebaliknya. Hubungan yang aktif terjadi bila anak memilih atau menciptakan
kondisi lingkungan yang bersifat mendukung terhadap atau sejalan dengan potensi
yang dimilikinya secara genotip. Misalnya seorang anak yang secara genetic
cerdas memilih lingkungan yang kondusif untuk belajar atau anak yang secara
bawaan berpotensi untuk berperilaku agresi memilih pergaulan yang keras (penuh
dengan perlakuan fisik) dengan teman-teman sebayanya.
2. PERKEMBANGAN
FISIK DAN PERSEPTUAL ANAK SEKOLAH DASAR
a. Perkembangan
Fisik
Secara
fisik, anak pada usia SD memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kondisi
fisik sebelum dan sesudahnya. Karakteristik perkembangan fisik ini perlu
dipelajari dan dipahami oleh para guru (calon guru) SD karena akan memiliki
implikasi tertentu pada penyelenggaraan pendidikan. Dalam hal ini diasumsikan
bahwa aktivitas-aktivitas mental lainnya, akan banyak dipengaruhi oleh kondisi
fisiknya. Selain itu juga diyakini bahwa pertumbuhan fisik anak dapat
memberikan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan.
Perkembangan fisik anak SD ini mencakup beberapa aspek, yaitu :
1)
Tinggi dan Berat Badan
2)
Proporsi dan Bentuk Tubuh
3)
Otak
4)
Keterampilan Motorik
b. Perkembangan
Perseptual
Secara
garis ada tiga proses aktivitas perseptual yang perlu dipahami, yakni: sensasi,
persepsi, dan atensi. Sensasi adalah
peristiwa penerimaan informasi oleh indra penerima (sensory receptors). Persepsi adalah
interprestasi terhadap proses pengolahan informasi lebih lanjut dari aktivitas
sensasi. Atensi mengacu kepada
selektivitas persepsi. Dengan atensi, kesadaran seseorang bisa hanya tertuju
kepada suatu objek atau informasi dengan mengabaikan objek-objek lainnya.
Persepsi
dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok, yaitu :
1) Persepsi
Visual
Persepsi
visual adalah persepsi yang didasarkan pada penglihatan. Dengan demikian,
proses perkembangannya sangat tergantung kepada fungsi indra mata. Dilihat dari
dimensinya, ada enam jenis persepsi visual yang dapat dibedakan, yakni :
a) Persepsi
konstanitas ukuran
b) Persepsi
tentang objek atau gambar pokok dan latarnya
c) Persepsi
keseluruhan dan bagian
d) Persepsi
ke dalaman
e) Orientasi
tilikan ruang
f) Persepsi
gerakan
g) Persepsi
pendengaran
3. IMPLIKASI
BAGI PENYELENGARAAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR
a. Implikasi
bagi penyelenggaraan pembelajaran
Kondisi
anak SD masih jauh dari matang dan masih terus berkembang. Fisik mereka masih
memerlukan banyak gerak baik untuk kepentingan peningkatan dan pengayaan
keterampilan-keterampilan motoriknya maupun untuk pemenuhan kebutuhan akan
gerak dan kesenangan mereka. Begitupun kondisi perseptualnya masih mengalami
penajaman dan penghasulan. Aspek-aspek perceptual ini akan berkembang dengan
baik kalau dirangsang dan difungsikan melalui interaksi dengan lingkungan.
Konkritnya,
cara pembelajaran yang diharapkan adalah memiliki karakteristik berikut : (1)
programnya disusun secara fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan
perbedaan individual anak; (2) tidak dilakukan secara monoton dan verbalistik,
tetapi disajikan secara variatif melalui banyak aktivitas seperti eksperimen,
praktek, observasi langsung, permainan, dan sejenisnya; dan (3) melibatkan
penggunaan berbagai media dan sumber belajar sehingga memungkinkan anak
terlibat secara penuh dengan menggunakan berbagai proses mental dan perceptual.
b. Implikasi
bagi penyelenggaraan pendidikan olahraga
Program
pendidikan olahraga yang rutin dan teratur sangat diperlukan bagi anak SD. Hal
ini penting untuk merangsang perkembangan fisik dan perceptual anak. Ada dua hal yang perlu dijadikan dasar dalam
penyelenggaraan program olahraga anak sekolah dasar. Pertama, pada usia SD sistem otot dan lemak anak mulai berkembang
sehingga anak mulai menguasai gerakan-gerakan secara relative sempurna. Kedua, dunia anak adalah dunia gerak dan
bermain.
c. Implikasi
bagi pemeliharaan kesehatan dan nutrisi anak
Kesehatan
merupakan salah satu faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan
fisik anak. Anak yang sering sakit-sakitan akan mengalami gangguan dan
keterlambatan dalam pertumbuhan fisiknya. Dengan demikian, penanaman kebiasaan
berperilaku sehat pada anak SD merupakan salah satu hal yang perlu dipahami dan
diterapkan sejak dini. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam program
pendidikan kesehatan bagi anak SD adalah unsure keteladanan dari pihak
pendidik. Di pihak lain, makanan yang mengandung gizi secara seimbang juga
nerupakan aspek yang penting dalam perkembangan anak.
Untuk
mewujudkan upaya pemeliharaan kesehatan dan pemenuhan gizi anak, ada beberapa
upaa yang dapat ditempuh oleh sekolah, diantaranya adalah: (1) melakukan
pemeriksaan kesehatan anak secara rutin, dan ini dapat dilakukan melalui
kerjasama dengan depkes; (2) menciptakan lingkungan sekolah yang sehat melalui
penerapan aturan dan disiplin yang jelas, tegas, dan bijaksana disertai dengan
unsure keteladanan dari pihak staf sekolah, khususnya guru; (3) melakukan
pembinaan tentang kesehatan terhadap para pedagang makanan yang ada disekitar
sekolah; dan (4) menjalin kerjasama dengan pihak orang tua untuk sama-sama
membudayakan berprilaku hidup sehat.
BAB
IV
PERKEMBANGAN
KOGNITIF DAN BAHASA ANAK SD
1. KONSEP
DAN DINAMIKA PERKEMBANGAN KOGNITIF
A. Konsep
kognitif dalam beberapa teori psikologi
Teori
Gestalt, yang dikembangkan oleh Kurt Koffka (1886-1941), menjelaskan bahwa bagi
kognisi manusia keseluruhan akan lebih berarti dari pada bagian-bagian.
Teori
medan dikembangkan oleh Kurt Lewin (1890-1947). Inti teori ini menyatakan bahwa
setiap kognisi individu memiliki medan psikologi tertentu. Menurut teori ini
kognisi didefinisikan sebagai korelasi pikiran dengan korelatnya.
Dari
hasil riset longitudinalnya dikemukakan empat tahapan perkembangan kognitif
individu, yaitu periode sensori motorik,
periode praoperasional, periode operasional kongkrit, dan periode operasional
formal.
B. Dinamika
perkembangan kognitif anak
Menurut
Piaget (Syamsuddin 2002:53) dinamika kognitif individu mengikuti dua proses,
yaitu proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana
seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru kedalam
struktur kognitif yang sudah ada didalam pikirannya. Adakalanya individu tidak
dapat mengasimilasi rangsangan atau pengalaman baru yang dihadapainya dengan
struktur kognitif yang ia miliki. Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan
individu pada situasi ini, yakni (1) membentuk struktur kognitif baru yang cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru;
(2) memodifikasi struktur kognitif yang ada sehingga cocok dengan rangsangan
atau pengalaman baru.
2. KARAKTERISTIK
PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK SD
1) Karakteristik
kognitif periode pra operasional pada anak usia SD
Sebagian
anak SD berada pada tahap praoperasional dengan proses berfikir intuitif (4;0 –
7;0). Pada anak SD adanya dominasi pengamatan yang bersifat egosentris, yakni
berfikir yang belum memahami cara orang lain memandang objek yang sama,
sehingga seperti searah. Perilaku yang tampak antara lain :
-
Self-centered dalam memandang dunianya
-
Dapat mengklasifikasi objek-objek atas
dasar satu ciri yang sama, mungkin pula memiliki perbedaan dalam hal yang
lainnya.
-
Dapat melakukan koleksi benda-benda
berdasarkan suatu ciri atau kriteria tertentu; dan
-
Dapat menyusun benda-benda, tetapi belum
dapat menarik inferensi dari dua benda yang tidak bersentuhan meskipun terdapat
dalam susunan yang sama.
2) Karakteristik
kognitif periode operasional konkret pada anak usia SD
Periode
ini dicirikan pemikiran yang reversible, mulai mengkonservasi pemikiran
tertentu, adaptasi gambaran yang menyeluruh, melihat suatu objek dari berbagai
sudut pandang, mampu melakukan seriasi, dan berfikir kausalitas.
a. Operasi
berfikir reversible anak SD
Pada
anak SD sudah mulai berkembang kemampuan berfikir logis, yakni berfikir yang
menggunakan operasi-operasi logis tertentu. Menurut Piaget ciri utama periode
operasional konkret adalah transformasi reversible dan sisitem kekekalan.
b. Sistem
kekekalan (konservasi) pemikiran pada anak usia SD
Hasil
penelitian Piaget menunjukkan bahwa ada enam perkembangan kekekalan pada anak
periode operasional konkret. Pertama,
kekekalan bilangan yang muncul pada anak usia 5-6 tahun. Kedua, kekekalan substansi yamg muncul pada usia 7 atau 8 tahun. Ketiga, kekekalan panjang yang
berkembang pada usia 7 ayau 8 tahun. Keempat, kekekalan luas yang umumnya
berkembang bersamaan dengan berkembangnya kekekalan panjang. Kelima, kekekalan berat yang umumnya
berkembang pada usia 9 atau 10 tahun. Keenam,
kekekalan volume yang umumnya berkembang pada usia 11 atau 12 tahun.
3) Ciri-ciri
perkembangan kognitif lainnya pada anak usia SD
Ciri-ciri
perkembangan kognitif lainnya pada anak usia SD adalah :
-
Kemampuan adaptasi dengan gambarann yang
menyeluruh
-
Kemampuan memandang sesuatu dari
berbagai macam
-
Kemampuan seriasi
-
Kemampuan klasifikasi, dan
-
Kemampuan kausalitas
4) Karakteristik
kognitif periode operasional formal pada anak usia SD
Meski
umumnya periode operasional formal berkembang pada masa remaja, tetapi sebagian
ciri-ciri berfikirnya kadang kala sudah tampak pada masa anak sekolah dasar.
Yang menjadi ciri utama tahap operasional formal adalah berkembangnya reasoning dan logika dalam memecahkan
persoalan-persoalan yang dihadapi. Kemampuan baru yang tampak pada periode
operasional formal adalah kemampuan :
(a)
Mengoperasikan kaidah logika matematika
berupa tambahan, kurang, kali, bagi, serta kombinasi dari keempat logika
matematika tersebut.
(b)
Memprediksi sesuatu berdasarkan fakta
dan data yang ada.
(c)
Mengkritis sesuatu meskipun dalam bentuk
sederhana, dan
(d)
Berfikir analitik dan sintetik.
3. IMPLIKASI
PRAKTIS DALAM MELAKUKAN STIMULASI PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA ANAK SD
Menurut
Piaget (Crain, 1980:98) pembelajaran tidak harus berpusat pada guru/tenaga
kependidikan, tetapi anak harus lebih aktif. Piaget juga mengisyaratkan bahwa
kemampuan berfikir anak dengan orang dewasa itu berbeda terutama anak yang
pemikirannya baru sampai pada tahap operasional konkret. Implikasinya berarti
bahwa sekuensi (urutan) bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus
menjadi perhatian utama.
Implikasi
dari teoi Piaget lainnya adalah bahwa dalam proses pembelajaran pendidik harus
memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik. Materi dirancang
sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus merangsang kemampuan
berfikir mereka.
Singkatnya,
beberapa implikasi teori perkembangan kognitif untuk pembelajaran adalah :
·
Pembelajaran tidak harus berpusat pada
guru/tenaga kependidikan, tetapi berpusat pada peserta didik/anak.
·
Materi yang dipelajari hatus menantang
dan menarik minat belajar peserta didik.
·
Pendidik harus terlibat bersama-sama
peserta didik dalam proses pembelajaran.
·
Sekuensi (urutan) bahan pembelajaran dan
metode pembelajarn harus menjadi perhatian utama. Anak akan sulit memahami
bahan pembelajaran jika sekuensi bahan pemeblejaran itu loncat-loncat.
·
Pendidik harus memperhatikan tahapan
perkembangan kognitif peserta didik dalam melakukan stimulasi pembelajaran.
·
Pada SD kelas awal pembelajarn
seyogyanya dibantu benda konkret.
4. PERKEMBANGAN
BAHASA
A. Pengertian
dan Unsur Bahasa
Pengertian Bahasa.
Bahasa
merupakan alat untuk berkomunikasai dengan orang lain. Bahasa merupakan faktor
hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Robert E Owen (Semiawan, 1999:111)
menjelaskan bahwa bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara
sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui penggunaan
symbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi symbol-simbol yang diatur dalam
ketentuan.
Pada
dasarnya bahsa sebagai alat komunikasi tidak hanya berupa bicara, melainkan
juga dapat diwujudkan dengan tanda isyarat tangan atau anggota tubuh lainnya
yang memiliki atau sendiri.
Unsur-unsur Bahasa
Sebagai
suatu alat komunikasi, bahasa memiliki seperangkat sistem yang satu sama lain
saling mempengaruhi, yaitu :
-
Fonologi,
merupakan salah satu bagian dari tata bahasa yang mempelajari bunyi-bunyi
bahasa pada umumnya.
-
Morfologi,
ialah
ilmu yang membicarakan morfem serta bagaimana morferm itu dibentuk menjadi kata
(Mar’at, 2001:61). Morferm adalah bentuk linguistik yang paling kecil.
-
Sintaksis,
adalah
bagian dari tata bahasa yang mempelajari dasar-dasar dan proses-proses pembentukkan
kalimat dalam suatu bahasa (Mar’at, 2001:63)
-
Semantic,
ialah studi mengenai arti suatu perkataan atau kalimat.
-
Pragmatic,
adalah penggunaan bahasa untuk mengekspresikan intention dan agar seseorang
mengerjakan sesuatu.
B. Perolehan
Bahasa pada Anak
·
Model Behaviorist
Inti pandangan model ini adalah : Language
is a function of reinforcement. Orang tua dan guru mengajar anak berbicara
dengan memberikan reinforcement
(penguatan) sebagai prinsip pendekatan behaviorist terhadap tingkah laku
verbal.
·
Model Linguistik
Chomsky dan kawan-kawan menganggap bahwa
perolehan bahasa anak dengan cara induksi sperti yang dijelaskan seperti yang
dijelaskan oleh mahzab empiris, melainkan karena manusia secara biologis memang
sudah di programkan untuk memperoleh bahasa.
·
Model Kognitif
Model ketiga ini adalah pandangan
terbaru mengenai perolehan bahasa pada anak. Pandangannya disebut dengan model
proses atau analisis strategi. Inti dari pendekatan baru ini adalah suatu model
kognitif untuk bahasa yang mencoba menjelaskan bagaimana bahsa itu diproses
secara kognitif dan bagaimana manifestasinya dalam tingkah laku. Model ini
berusaha menghubungkan segi performance
dengan segi competence, hal mana
belum diungkapkan hubungannya oleh kedua pendekatan yang terdahulu.
C. Aspek-aspek
Berbahasa Anak
Setidaknya
terdapat empat aspek dalam berbahasa (Mar’at, 2001), keempat aspek tersebut
adalah :
·
Kemampuan menggunakan bahasa untuk
meyakinkan orang lain agar mau melakukan sesuatu.
·
Potensi yang membantu mengingat atau
menghafal.
·
Penjelasan
·
Berbahasa untuk menjelaskan bahasa itu
sendiri
Aspek
bahasa lainnya adalah semantic (arti kata) dan pragmatis (memandang sesuai
kegunaannya), yaitu dapat memanfaatkan dengan baik mekanisme pemprosesan
informasi secara lebih luas, dikaitkan dengan organ bicara.
D. Lingkungan
yang Kondusif terhadap Perolehan Bahasa Anak
Mar’at
(2001) menjelaskan beberapa pendekatan yang dipandang bermanfaat bagi
perkembangan bahasa anak, pendekatan tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Menggunakan
pendekatan informal
2.
Memfokuskan
diri pada maksud pembicaraan
3.
Harapan
akan keberhasilan
4.
Bercirikan
kreativitas
5.
Menghargai
keberhasilan
E. Implikasi
bagi Kegiatan Pembelajarn
1)
Apabila kegiatan pembelajaran yang
diciptakan bersifat efektif, maka perkembangan bahasa anak dapat berjalan secara
optimal, dan begitupun sebaliknya.
2)
Diperlukannya bahasa yang komunikatif
dan memungkinkan semua pihak yang terlibat dalam interaksi pembelajaran dapat
berperan secara aktif dan produktif. Dengan demikian guru SD diharapkan banyak
menggunaka bahasa anak daripada bahasa orang dewasa.
3)
Lingkungan yang kondusif dapat tercipta
sesuai dengan kebutuhan anak untuk perkembangan bahasa pada saatnya, akan
berdampak sangat positif terhadap perkembangan bahasa anak, tidak hanya sebagai
pengguna bahasa yang pasif, melainkan juga dapat menjadi pengguna bahasa yang
aktif.
BAB V
PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KEMANDIRIAN
ANAK SEKOLAH DASAR
1. PERKEMBANGAN
SOSIAL
A. Makna
Perkembangan Sosial Anak Usia Sekolah Dasar
Perkembangan
sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga
diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma
kelompok, moral dan tradisi : meleburkan diri menjadi suatu kesatuan, saling
berkomunikasi dan bekerja sama. Suean Robinson Ambron (1981) mengartikan
sosialisasi itu sebagai proses belajar yang membimbing anak ke arah
perkembangan kepribadian sosial sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang
bertanggung jawab dan efektif.
B. Perilaku
Sosial Anak Usia Sekolah Dasar
a)
Perbangkangan
(negativism), yaitu suatu bentuk tingkah laku
melawan.
b)
Agresi
(aggression), yaitu perilaku menyerang baik secara
fisik maupun kata-kata.
c)
Berselisih/bertengkar
(quarelling), terjadi apabila seorang anak merasa
tersinggung atau terganggu oleh sikap dan perilaku anak lain.
d)
Menggoda
(teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku
agresi. Menggoda merupakan serangan mental terhadap oranglaindalam bentuk
verbal (kata-kata ejekan/cemoohan), sehingga menimbulkan reaksi marah pada
orang yang di serangnya.
e)
Persaingan
(rivaly), yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan
selalu didorong (distimulasi) oleh orang lain.
f)
Kerjasama
(cooperation), yaitu sikap mau bekerjasama dengan
kelompok.
g)
Tingkah
laku berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah
laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap “business”.
h)
Mementingkan
diri sendiri (selfishness), yaitu sikap egosentris dalam
memenuhi interest atau keinginannya.
i)
Simpati,
yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap
orang lain, mau mendekati atau bekerjasama dengannya.
Perkembangan
sosial anak sangat dipengaruhi oleh
lingkungan sosialnya, baik orangtua, keluarga, atau teman sebayanya. Namun
apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, maka anak akan cenderung
menampilkan perilaku maladjustment,
seperti : (1) bersifat minder; (2) senang mendominasi oranglain; (3) bersifat
egois/selfish; (4) senang mengisolasi diri/menyendiri; (5) kurang memiliki
perasaan tenggang rasa; dan(6) kurang mempedulikan norma dan perilaku.
C. Pergaulan
Teman Sebaya
Menurut
Santrock (1995:347) setidaknya ada tiga perilaku yang dapat lahir dari kegiatan
teman sebaya ini, yaitu :
a)
Melahirkan popularitas
b)
Akan ada anak yang diabaikan, yaitu
anak-anak sedikit penerima perhatian dari teman-temannya, tetapi tidak berarti
tidak disukai oleh teman-temannya.
c)
Anak-anak yang ditolak, yaitu anak-anak
yang tidak disukai oleh teman-teman sebayanya.
D. Perkembangan
Pemahaman Diri
Pada
usia sekolah dasar pemahaman anak tentang diri sendiri berubah secara pesat dan
mendefinisikan diri melalui karakteristik eksternal menjadi mendefinisikan diri
melalui karakteristik internal. Pemahaman diri anak-anak pada tahun-tahun
sekolah dasar juga mencakup peningkatan acuan pada perbandingan sosial. Pada
tahap perkembangan ini, anak-anak lebih cenderung membedakan diri mereka dari
orang lain secar komparatif daripada secar absolut.
E. Implikasi
terhadap Kegiatan Pembelajaran
Pertama,untuk
meningkatkan kemampuan anak dalam menyadari dan mengahayati pengalaman-pengalaman
sosialnya, dapat dilakukan aktivitas-aktivitas bermain peran, pemutaran film,
dan aktivitas sejenis lainnya yang memperlihatkan kepada mereka tentang
bagaimana orang mengekspresikan sosial emosinya secara wajar dan tidak wajar
serta konsekuensi-konsekuensinya.
Kedua,
yang perlu diperhatiakn adalah menonjolnya peranan teman sebaya bagi anak SD.
Ini mengimplikasikan perlunya aktivitas-aktivitas pendidikan atau pembelajaran
baik di kelas ataupun diluar kelas yang memberikan banyak kesempatan kepada
anak berdialog diantara sesam mereka.
2. KONSEP
KEMANDIRIAN
Menurut
Steinberg (1995), istilah independence dan
autonomy sering disejajar artikan
secara silih berganti dalam menjelaskan kemandirian sesuai dengan konsep kedua
istilah tersebut. Secara leksika independence
berarti kemerdekaan atau kebebasan. Anak yang sudah mencapai independence ia mampu menjalankan atau
melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain
terutama orang tua. Kemandirian yang mengarah kepada kepada konsep independence ini merupakan bagian dari
perkembangan autonomy selama usia SD,
hanya saja autonomy mencakup dimensi
emosional, bermoral, dan nilai. Individu yang otonom ialah individu yang mampu
mengelola/mengatur dirinya sendiri. Kemampuan dalam mengelola diri sendiri ini
ditandai oleh kemampuannya untuk tidak tergantung secara emosional terhadap
orang lain, terutama orangtua, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan
konsekuen terhadap keputusan tersebut, serta kemampuan menggunakan (memiliki)
seperangkat prinsip tentang benar dan salah serta penting dan tidak penting.
3. DINAMIKA
PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN PADA ANAK USIA SD
Perkembangan
kemandirian pada anak SD diawali dengan pemudaran ikatan emosional (emotional
bound) orangtua – anak pada masa kecil. Tidak mudah bagi anak dalam
memperjuangkannya. Jika anak mampu memutuskan simpul-simpul ikatan infantile maka ia akan melakukan
separasi, yakni pemisahan diri dari keluarga. Keberhasilan dalam melakukan
seperasi inilah yang merupakan dasar bagi pencapaian kemandirian terutama
kemandirian yang bersifat independence.
Dengan kata lain kemandirian yang pertama muncul pada diri individu adalah
kemandirian yang bersifat independence,
yakni lepasnya ikatan-ikatan emosional infatile individu sehingga ia dapat
menentukan sesuatu tanpa harus selalu ada dukungan emosional dari orang tua.
Oleh karena itu pada masa anak sekolah terutama menjelang pubertas ada suatu
pergerakan kemandirian yang dinamis dari ketidak mandirian individu pada masa
kanak-kanak menuju kemandirian yang lebih bersifat autonomy pada mas berikutnya.
4. TIPE-TIPE
KEMANDIRIAN ANAK SD
Steinberg
(1995 : 289) membagi kemandirian dalam tiga tipe, yaitu :
1) Kemandirian emosional
Kemandirian emosional pada anak ialah
dimensi kemandirian yang berhubungan dengan perubahan keterikatan hubungan
emosional remaja dengan orang lain, terutama dengan orang tua.
2) Kemandirian behavioral
Kemandirian behavioral pada anak ialah
dimensi kemandirian yang merujuk kepada kemampuan anak membuat keputusan secara
bebas dan konsekuen atas keputusannya itu.
3) Kemandirian nilai
Kemandirian nilai pada anak ialah dimensi
kemandirian yang merujuk kepada kemampuan untuk memaknai sperangkat prinsip
tentang benar dan salah, serta penting dan tidak penting.
BAB
VI
PERKEMBANGAN
KARIER ANAK SEKOLAH DASAR
1. KONSEP
KARIER
Karier
adalah perjalanan hidup individu yang bermakna melalui serangkaian sukses-sukses
dalam hidup. Karier bisa diperoleh melalui pekerjaan, hobi, jabatan, profesi,
dan lain-lain bidang kehidupan. Anak SD umumnya berada pada proses pertumbuhan
karier.
Sesuatu
disebut karier jika mengimplikasi adanya (1) pendidikan yang diwujudkan dengan
keahlian tertentu; (2) keberhasilan; (3) dedikasi atau komitmen, serta (4)
kebermaknaan personal dan financial. Karier terentang sejak sebelum bekerja,
pada saat bekerja, dan masa-masa mengakhiri pekerjaan. Karier dapat
dipersiapkan pada sepanjang hayat individu.
2. KONSEP
KARIER PERKEMBANGAN KARIER ANAK USIA SD
A. Perkembangan
karier anak SD menurut Ginzberg
Berdasarkan
teori perkembangan karier Ginzberg anak usia SD berada pada tahap kuintasi
menuju tahap tentative. Pilihan karier mereka merupakan khayalan yang terkadang
tidak realistis. Lalu berangsur-angsur menuju tahap tentatif yang mana pilihan
kariernya disesuaikan dengan kesenangan, ketertarikan atau minat bakat. Bahkan
sebagian anak SD sudah mulai mempertimbangkan aspek kemampuan dalam menemukan
karier masa depannya. Sementara itu, mereka masih terbelenggu oleh proses
imitatifnya, yakni anak usia SD cenderung meniru apa yang ditampilkan orang
sekitarnya yang dipandang bermakna baginya. Oleh sebab itu dalam kerangka
pengembangan kariernya, kepada mereka perlu diperlihatkan pigur-pigur orang
yang berhasil berhasil dalam bidang tertentu. Sembari itu anak usia SD perlu
dibekali dengan kemampuan memahami keunggulan dan kelemahan dirinya.
B. Perkembangan
karier anak usia SD menurut Super
Berdasarkan
teori Super, perkembangan karier anak usia SD berada pada tahap pertumbuhan
(growth), yang ditandai oleh berkembangnya keingintahuan (curiosity), fantasi,
minat, dan berkembangnya kemampuan karier.
C. Karier
anak usia SD menurut teori cirri dan faktor
Untuk
mengembangkan karier pada anak usia SD, Parson (Sharf, 1992 : 18-34)
mengemukakan dua langkah pengambilan keputusan karier. Pertama,perolehan pemahaman diri, ialah pemahaman secara jelas
tentang sikap, prestasi, kemampuan, minat, ambisi, sumber keterbatasan dan
penyebab-penyebabnya, nilai-nilai, dan kepribadian. Sejak dini anak usia SD
dibimbing untuk memahami kesemuanya itu. Kedua,
memperoleh pengetahuan tentang dunia kerja yang mencakup pengetahuan tentang
informasi tipe lapangan kerja seperti kondisi dan upah kerja, sistem
klasifikasi kerja, serta ciri dan faktor yang dipersyarakatkan suatu pekerjaan.
Dalam memfasilitasi perkembangan karier anak usia SD orangtua atau guru
hendaknya mengenalkan semua bidang karier yang ada, terutama yang dekat dengan
lingkungan anak.
3. ORIENTASI
KARIER BAGI ANAK USIA SD
A. Sikap
terhadap Karier
Menurut
Super (Sharf: 1992 : 156) sikap individu terhadap kariernya dapat dianalisis
dari dua aktivitas yang selanjutnya disebut sub dimensi sikap terhadap karier,
yaitu:
1) Perencanaan
karier
Perencanaan
karier mengacu kepada aktivitas individu dalam merencanakan karier. Aktivitas
tersebut mencakup (1) mempelajari informasi tentang karier, (2) membicarakan
perencanaan karier dengan orang dewasa, (3) mengikuti kursus sesuai dengan
karier yang diharapkan, (4) berpartisipasi dalam kegiatan ekstra kulikuler
sesuai dengan karier yang diharapkan, dan (5) mengikuti pendidikan atau latihan
yang mengarah kepada karier masa depan.
2) Eksplorasi
karier
Berdasarkan
konsep ini, eksplorasi karier siswa yang dimaksud terlihat dari aktivitasnya
dalam hal memanfaatkan orangtua, guru, konselor, kenalan, dan buku sebagai
sumber informasi karier.
B. Keterampilan
Pembuatan Kebutuhan Karier
Sedikitnya
ada dua alas an mengapa keterampilan pembuatan keputusan dipandang penting bagi
individu. Pertama, hakikatnya hidup
dari waktu ke waktu merupakan rangkaian dari hasil pengambilan keputusan karena
dalam hidup selalu ada pilihan dan konflik. Kedua,
keterampilan pembuatan keputusan menjadi penting karena jika individu keliru
mengambil kepetusan tertentu maka ia cenderung dihadapkan kepada suatu masalah
tertentu.
Mengacu
pada konsep ini keterampilan pembuatan keputusan karier terdiri atas:
a. Kemampuan
menggunakan pengetahuan dalam membuat keputusan karier
b. Kemampuan
menggunakan pemikiran dalam membuat keputusan karier
C. Informasi
dunia kerja
Munandir
(1996:165) mendefinisikan informasi sebagai segala sesuatu yang membuat orang
menjadi tahu tentang sesuatu itu. Informasi dunia kerja artinya segala hal yang
berkaitan dengan dunia kerja yang membuat orang menjadi tahu tentang dunia
kerja itu. Menurut Sharf (1992:158) informasi dunia kerja yang dimaksud
mencakup dimiliknya
(a) Informasi
tentang pekerjaan tertentu
Pertama,
memiliki informasi tentang jenis-jenis pekerjaan yang sesuai dengan karier yang
diharapkan. Kedua, memiliki informasi
tentang cara memasuki dunia keja yang sesuai dengan karier yang diharapkan.
(b) Informasi
tentang orang lain dalam dunia kerjanya
Pertama,
siswa memiliki informasi tentang bagaimana orang lain memahami minat dari
kemampuannya dalam berkarier. Kedua,
siswa memiliki informasi tentang bagaimana orang lain mempelajari tentang
pekerjaanya.