Judul buku :
Psikologi pendidikan
Penulis : Drs. M. NGALIM PURWANTO
Penerbit : PT REMAJA ROSDAKARYA-BANDUNG
Tahun terbit :
1997
Jumlah :
9 Bab pembahasan.
BAB I
PENDAHULUAN
1. Apakah Psikologi Itu?
Menurut
arti kata – katanya, psikologi sering diterjemahkan menjadi ilmu jiwa. Karena berasal dari kata psyche = jiwa, roh, dan logos = ilmu. Psikologi adalah ilmu yang
ingin mempelajari manusia. R.S. Woodword member batasan tentang psikologi
sebagai berikut: “Psychology can be
defined as the science of the activities of individual” Dengan singkat
dapat dikatakan bahwa psikologi ialah
ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Crow & Crow memberikan
batasan tentang psikologi sebagai berikut : psychology
is the study of human behavior and human relationship. Dari batasan
tersebut jelas bahwa yang dipelajari oleh psikologi ialah tingkah laku manusia,
yakni interaksi manusia dengan dunia
sekitarnya, baik yang berupa manusia lain (human relationship) maupun yang
bukan manusia : hewan, iklim, kebudayaan, dan ssebagainya.
2. Objek Psikologi dan Macam –
macamnya
.
Karena sifat – sifat manusia yang sangat kompleks dan unik, maka objek
psikologi biasanya dibedakan menjadi 2 macam :
a. Objek material, yakni
objek yang dipandang secara keseluruhannya. Adapun objek material dari
psikologi adalah manusia. Disamping itu manusia juga menjadi objek bagi ilmu –
ilmu lain, seperti sosiologi, antropologi, sejarah, biologi, ilmu kedokteran,
ilmu hukum, ilmu mendiddik, dll.
b. Objek Formal, dalam
hal ini objek formal dari psikologi itu berbeda beda menurut perubahan zaman
dan pandangan para ahli masing – masing. Pada zaman Yunani sampai dengan abad
pertengahan misalnya, uang menjadi objek formalnya adalah hakekat jiwa. Kemudian pada masa Descartes objek psikologi itu
adalah gejala – gejala kesadaran, yakni apa apa yang langsung kita hayati dalam
kesadaran kita: tanggapan, perasaan, emosi – emosi, hasrat, kemauan, dll.
Pada aliran Behaviorisme yg timbul di
Amerika pada permulaan abad ke-20 ini yg menjadi objeknya ialah tingkah laku manusia yg tampak (lahiriah).
Sedangkan pada aliran psikologi yang di pelopori oleh Freud, objeknya adalah
gejala – gejala ketidak sadaran manusia.
3. Hubungan Psikologi dengan Ilmu –
Ilmu Lain
a. Psikologi dan Antropologi
Secara etimologis, antropologi berarti
ilmu tentang manusia, antropos =
manusia, dan logos = ilmu.
Antropologi sebagai ilmu yang masih muda (timbul antara perang dunia I dan II)
mempunyai perhatian terhadap semua cabang pengetahuan yg berhubungan dengan
manusia, yaitu manusia sebagai gejala biologis dan manusia sebagai makhluk
sosial dan budaya. Antropologi dapat dibagi menjadi dua yaitu : Antropologi fisik, dan Antropologi
kebudayaan. Antropologi fisik berhubungan
dengan ciri – ciri fisik dari berbagai manusia di dunia (ras, warna
kulit, bentuk & warna rambut, besar & berat otak, ciri-ciri fisik
lainnya dan juga sifat-sifat intelektual dan emosional dari suatu kelompok
manusia).
Antropologi kebudayaan berhubungan
dengan berbagai kebudayaan, kepribadian yg tipikal yang terdapat dalam tiap
kebudayaan, pengaruh-pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian seseorang dan
masyarakat.Seorang ahli antropologi memusatkan perhatiannya terhadap berbagai
ciri dari suatu kebudayaan tertentu; membandingkannya dengan kebudayaan yang
lain. Apa yang diselidiki oleh antropologi, sebenarnya juga banyak yang merupakan
objek-objek dari psikologi.
Psikologi menyelidiki tingkah laku
manusia sebagai individu. Untuk mengetahui suatu individu tidak mungkin yg
namanya terlepas dari bagaimana kebudayaan masyarakat tempat individu itu hidup
dan dibesarkan. Sebaliknya, untuk mengetahui suatu kebudayaan tertentu
seringkali diperlukan untuk mengerti/mengetahui bagaimana orang-orang/individu
– individu dalam masyarakat itu mengalami dan merasakannya. Jadi psikologi dan
antropologi itu keduanya menyangkut
daerah dan masalah – masalah tertentu yg bersamaan, keduanya saling isi-mengisi
(suplementer). Perbedaan yang yg prinsipiil hanyalah terletak pada apa yang
menjadi tekanannya. Psikologi menekankan pada individu sedangkan antropologi
menekankan pada kelompok.
b. Psikologi dan Sosiologi
Sosiologi juga merupakan suatu ilmu yang
secara langsung berhubungan dengan tingkah laku manusia. Seperti halnya dengan
Antropologi ia berhubungan dengan masalah manusia dalam kelompok; masalah
hubungan sosial. Hanya biasanya sosiologi itu menyangkut hubungan kelompok
manusia yang lebih kecil, sedangkan antropologi mengenai kelompok masyarakat
yang lebih luas. Para ahli sosiologi lenih memusatkan perhatiannya kepada
tingkah laku kelompok. Ia mempelajari pengaruh – pengaruh kelompok trhadap
individu-individu yg termasuk ke dalam kelompok itu. Masalah – masalah sosial
yang diselidiki oleh sosiologi antara lain masalah – masalah kejahatan,
kenakalan/kejahatan anak – anak, perceraian/talak, perkembangan dan perubahan
sifat – sifat keluarga, dan sebagainya. Juga mengenai pengaruh tekanan –
tekanan sosial terhadap kepribadian, dan cara tekanan sosial itu mempengaruhi
individu.
Melihat kepada apa yg menjadi objek
sosiologi seperti di atas, tampak oleh kita bahwa ilmu (psikologi dan
sosiologi) inipun mempunyai banyak persamaan. Perbedaannya: Psikologi
menekankan pada person individu, mengapa individu bertingkah laku seperti yg
dia lakukan, sedangkan sosiologi menekankan pada sifat-sifat dan tingkah laku
kelompok. Yang dipelajari oleh sosiologi terutama ialah hubungan sosial
manusia.
c. Psikologi dan Fisiologi
Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari
fungsi-fungsi berbagai organ yg ada dalam tubuh manusia (seperti: fungsi perut
dan hati, limpa dan empedu) dan berbagai sistem peredaran (seperti: peredaran
makan, peredaran darah, pengeluaran sisa-sisa pembakaran, dsb). Juga
mempelajari bagaimana organ-organ dan sistem-sistem peredaran itu berinteraksi
satu sama lain. Apa yg diselidiki/dipelajari oleh psikologi ialah mengenai
personal individu itu sendiri. Individu sebagai kesatuan jasmani dan rohani.
Jadi meskipun psikologi menyelidiki fungsi-fungsi jasmani, selalu ada hubungan
dengan fungsi - fungsi/kegiatan – kegiatan rohani individu.
4.
Apakah
Psikologi Pendidikan itu ?
Sepanjang
atau selagi kita masih berpendapat bahwa psikologi adalah suatu ilmu yg
berusaha menyelidiki semua aspek kepribadian dan tingkah laku manusia, baik yg
bersifat jasmaniah maupun rohaniah, baik secara teoritis maupun dengan melihat
kegunaannya di dalam praktek, baik secara individual, maupun dalam hubungannya
dengan manusia lain atau lingkungannya, mungkin kita akan mengatakan bahwa
‘psikologi pendidikan’ itu sudah termasuk di dalam psikologi, dan tidak perlu
dipersoalkan atau dipisahkan menjadi suatu disiplin ilmu itu sendiri.
Kini
para ahli psikologi pendidikan pada umumnya berpendapat bahwa psikologi
pendidikan adalah psikologi yang diterapkan di dalam pendidikan. Selanjutnya
dijelaskan pula dalam Encyclopedia America bahwa belajar yang efisien juga
bergantung/dipengaruhi oleh iklim belajar (learning climate) yg mencakup
keadaan fisik, sosial dan mental siswa, minat, sikap, dan nilai – nilai,
sifat-sifat kepribadian, kecakapan-kecakapannya, dan sebagainya. Karena
psikologi pendidikan mendasarkan uraiannya pada metode-metode ilmiah untuk
mendapatkan dan mengaplikasikan pengetahuan di dalam bidang pendidikan maka
psikologi pendidikan disebut pula ilmu terapan atau ‘applied science’.
Senada dengan apa yg telah diuraikan di
atas, Crow & Crow pun menyatakan bahwa psikologi pendidikan merupakan suatu
ilmu yang berusaha menjelaskan masalah-masalah yg dialami individu dari sejak
lahir sampai berusia lanjut, terutama yang menyangkut kondisi-kondisi yang
mempengaruhi belajar.
Apapun yang dikemukakan oleh para ahli
tentang psikologi pendidikan, dapat disimpulkan bahwa psikologi pendidikan
adalah cabang dari psikologi yg dalam penguraian dan penelitiannya lebih
menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun
mental, yang sangat erat kaitannya dengan masalah pendidikan terutama yang
mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar.
5.
Ruang
Lingkup Psikologi Pendidikan
Crow & Crow secara eksplisit
mengenmukakan: psikologi pendidikan sebagai ilmu terapan (applied science)
berusaha untuk menerangkan masalah belajar menurut prinsip-prinsip dan fakta –
fakta menegenai tingkah laku manusia yg telah ditentukan secara ilmiah.
Sesuai dengan pendapatnya itu, Crow &
Crow mengemukakan bahwa data yang dicoba didapatkan oleh psikologi pendidikan,
yg dengan demikian merupakan ruang lingkup psikologi pendidikan, antara lain
ialah :
1) Sampai
sejauh mana faktor-faktor pembawaan dan lingkungan berpengaruh terhadap
belajar;
2) Sifat
– sifat dari proses belajar;
3) Hubungan
antara tingkat kematangan dengan kesiapan belajar (learning readiness);
4) Signifikansi
pendidikan terhadap perbedaan – perbedaan individual dalam kecepatan dan
keterbatasan belajar;
5) Perubahan
– perubahan jiwa (inner changes) yang terjadi selama dala belajar;
6) Hubungan
antara prosedur – prosedur mengajar dengan hasil belajar;
7) Teknik
– teknik yg sangat efektif bagi penilaian kemajuan dalam belajar;
8) Pengaruh/akibat
relatif dari pendidikan formal dibandingkan dengan pengalaman – pengalaman
belajar yg incidental dan informal terhadap suatu individu;
9) Nilai/manfaat
sikap ilmiah terhadap pendidikan bagi personil sekolah;
10) Akibat/pengaruh
psikologis (psychological impact) yang ditimbulkan oleh kondisi – kondisi
sosiologis terhadap sikap para siswa.
BAB II
PEMBAWAAN, KETURUNAN DAN LINGKUNGAN
1.
Soal
Pembawaan dan Lingkungan
Soal
pembawaan ini adalah soal yg tidak mudah dan dengan demikian memerlukan
penjelasan dan uraian yang tidak sedikit. Telah bertahun – tahun lamanya para
ahli didik, ahli biologi, ahli psikologi, dan lain – lain memikirkan dan
berusaha mencari jawaban atas pertanyaan: perkembangan manusia itu tergantung kepada
pembawaan ataukah kepada lingkungan ? Atau dengan kata lain dalam perkembangan
anak muda hingga menjadi dewasa faktor – faktor yg menentukan itu, kadang –
kadang yg dibawa dari keturunan ( pembawaan) ataukah pengaruh-pengaruh
lingkungan ?
Dalam
usaha menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut perlu di sini dikemukakan
adanya beberapa pendapat :
a. Aliran Nativisme
Aliran ini berpendapat bahwa segala
perkembangan manusia itu telah ditentukan oleh faktor – faktor yg dibawa sejak
lahir. Pembawaan yg telah terdapat pada waktu dilahirkan itulah yg menentukan
hasil perkembangannya. Menurut Nativisme, pendidikan tidak dapat mengubah sifat
– sifat pembawaan. Jadi kalau benar pendapat tersebut, maka percumalah kita
mendidik, atau dengan kata lain : pendidikan tidak perlu. Dalam ilmu
pendidikan, ini disebut pesimisme
paedagogis.
b. Aliran Empiris
Aliran ini mempunyai pendapat yang
berlawanan dengan kaum Nativisme. Mereka berpendapat bahwa dalam perkembangan
anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau
oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak jecil. Manusia – manusia
dapat dididik menjadi apa saja (kea rah yg baik maupun kea rah yg buruk)
menurut kehendak lingkungan atau pendidik-pendidiknya. Dalam pendidikan,
pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme paedogogis. Kaum behavioris pun sependapat dengan kaum
empiris.
c. Hukum Konvergensi
Hukum ini berasal dari
ahli psikologi bangsa Jerman bernama William
Stern. Ia berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua–duanya
menentukan perkembangan manusia. Dalam aliran yg menganut hukum konvergensi itu
sendiri masih terdapat dua aliran, yaitu aliran yang dalam hukum konvergensi
ini lebih menekankan kepada pengaruh pembawaan daripada pengaruh lingkungan,
dan yang sebaliknya. Sementara itu kita belum puas juga dengan/atas jawaban
dari hukum konvergensiitu, yg mengatakan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan (merupakan hasil) dari dua
buah faktor ialah pembawaan dan lingkungan.
2.
Pembawaan
dan Keturunan
a. Keturunan
Kita dapat mengatakan bahwa sifat-sifat
atau ciri – ciri pada seorang anak adalah keturunan, jika sifat – sifat atau
ciri – ciri tersebut diwariskan atau diturunkan melalui sel – sel kelamin dan
generasi yang lain. Ada dua syarat untuk memutuskan suatu sifat atau ciri –
ciri yang terdapat pada seseorang itu keturunan atau bukan, yaitu :
1)
Persamaan sifat atau ciri – ciri, dan
2)
Ciri – ciri ini harus menurun melalui
sel – sel kelamin.
b. Pembawaan
1.
Pengertian
Pembawaan
Pembawaan
ialah seluruh kemungkinan atau kesanggupan – kesanggupan (potensi)yg terdapat
pada suatu individu dan yang selama masa perkembangannya benar – benar dapat
diwujudkan (direalisasikan).
2. Struktur Pembawaan
Pembawaan itu
menyatakan diri dalam perwujudannya (dari potential ability menjadi actual ability),
kita hendaklah selalu ingat bahwa sifat – sifat dalam pembawaan
(potensi-potensi) itu seperti : potensi untuk belajar ilmu pasti, berkata –
kata yg baik, dll, merupakan struktur pembawaan
anak – anak. Jadi sifat – sifat dalam pembawaan itu tidak berdiri sendiri –
sendiri yang satu terlepas dari yang lain. Sifat – sifat yang bermacam-macam
dalam pembawaan itu merupakan keseluruhan yg erat hubungannya satu sama lain,
yang satu menentukan, mempengaruhi, menguatkan atau melemahkan yg lain.
3. Pembawaan dan Keturunan
pembawaan ialah seluruh kemungkinan yang
terkandung dalam sel –benih yang akan berkembang mencapai perwujudannya.
Pembawaan (yang dibawa si anak sejak lahir) adalah potensi – potensi yang aktif
dan pasif, yang akan terus berkembang hingga mencapai perwujudannya. Dengan
demikian dapatlah kita katakana bahwa cacad yang ada pada anak adalah
pembawaannya (yang dibawa sejak lahir).
Jadi
kesimpulannya ialah : Semua yang dibawa
oleh si anak sejak dilahirkan adalah diterima karena kelahirannya; jadi memang
adalah pembawaan. Tetapi pembawaan itu tidaklah semuanya diperoleh karena
keturunan. Sebaliknya, semua yang diperoleh karena keturunan adalah dapat
dikatakan pembawaan: atau lebih tepat lagi pembawaan keturunan.
4. Pembawaan dan Bakat
Sebenarnya
kedua istilah tersebut adalah dua istilah yang sama maksudnya. Umumnya dalam
buku – buku psikologi kita dapati kedua istilah itu sejajar, sama – sama
dipakai untuk satu pengertian, yaitu pembawaan (aanleg). Untuk menggantikan
kata aanleg kedua istilah tersebut di
atas dapat digunakan sama – sama dengan maksud yang sama pula.
Kalau
kita rasakan benar – benar kedua istilah itu memang ada perbedaannya. Titik
berat perbedaannya terletak pada luas pengertiannya: yang satu mengandung pengertian yang lebih
luas dari pada yang lain.
5.
Beberapa
Macam Pembawaan dan Pengaruh Keturunan
a.
Beberapa macam pembawaan berikut :
1. Pembawaan
Jenis
2. Pembawaan
Ras
3. Pembawaan
Jenis Kelamin
4. Pembawaan
Perseorangan
b.
Banyak sifat – sifat pembawaan
perseorangan yang dalam pertumbuhannya lebih ditentukan oleh linngkungannya.
Adapun yang termasuk pembawaan perseorangan yg dalam pertumbuhannya lebih
ditentukan oleh pembawaan keturunan anatara lain :
1. Konstitusi
tubuh : termasuk di dalamnya: motorik, seperti sikap badan, sikap berjalan, air
muka, gerakan bicara. Kretschmer dalam bukunya Korperbau und Character menyatakan bahwa antara bentuk tubuh dan
watak seseorang terdapat korelasi yang tertentu. Sehingga ia berpendapat bahwa
watak seseorang antara lain ditentukan pula oleh bentuk tubuhnya (ingat
pelajaran psikologi tentang Karakterologi/Ilmu Watak).
2. Cara
bekerja alat – alat indra: Ada orang yg lebih menyukai beberapa jenis
perangsang tertentu yang mirip dengan kesukaan yang dimiliki oleh ayah atau
ibunya.
3. Sifat-sifat
ingatan dan kesanggupan belajar: (Mengenai sifat – sifat ingatan)
4. Tipe
– tipe perhatian, intelejensi konsien (I.Q) serta tipe – tipe intelejensi.
5. Cara
– cara berlangsungnya emosi – emosi yang khas : Cepat atau lambatnya bereaksi
terhadap sesuatu: dengan keras atau dengan tenang; cara timbulnya perasaan atau
pikiran dan sebagainya (temperamen).
6. Tempo
dan ritme perkembangan.
6.
Lingkungan (Environment)
a.
Macam
– Macam Lingkungan
Sartain
(seorang ahli psikologi Amerika) menngatakan bahwa lingkungan (environment)
ialah meliputi semua kondisi – kondisi dalam dunia ini yang dalam cara – cara
tertentumempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life
processes kita kecuali gen – gen dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang
sebagai menyiapkan lingkungan (to provide environment) bagi gen yang lain.
Menurut
Sartain lingkunga itu dapat dibagi menjadi 3 bagian sebagai berikut :
1) Lingkungan
alam/luar (external or physical environment),
2) Lingkungan
dalam (internal environment), dan
3) Lingkungan
sosial/masyarakat (social environment).
b.
Bagaimana Individu Berhubungan dengan
Lingkungan?
Allport
merumuskan kepribadian manusia sebagai berikut : “Kepribadian adalah organisasi dinamis daripada system psikofisik dalam
individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam menyesuaikan
dirinya dengan lingkungan”.
Dari
rumusan/definisi tersebut jelas bahwa kepribadian manusia tidak dapat
dirumuskan sebagai suatu keseluruhan atau kesatuan individu saja, tanpa
sekaligus meletakkan hubungannya dengan lingkungannya.
Menurut
Woodworth, cara – cara individu itu
berhubungan dengan lingkungannya dapat dibedakan menjadi 4 macam :
1. Individu
bertentangan dengan lingkungannya
2. Individu
menggunakan lingkungannya
3. Individu
berpartisipasi dengan lingkungannya,
dan
4. Individu
menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
BAB
III
MENGAPA
MANUSIA BERINTERAKSI DENGAN DUNIA LUAR
1.
Tenaga
– Tenaga Pendorong Pada Manusia
Manusia
adalah makhluk yang belum selesai, belum lengkap dan yang membutuhkan dunia
luar untuk berkembang mencapai kesempurnaannya, baik jasmani maupun rohani.
Dorongan nafsu itulah yang merupakan kekuatan di dalam diri kita, yang
mendorong kita maju untuk memiliki benda – benda dan nilai – nilai itu.
Dorongan nafsu adalah bentuk penjelmaan hidup yang tertentu.
Dalam
garis besarnya, dorongan nafsu itu dapat dibagi menjadi tiga golongan :
a. dorongan nafsu mempertahankan diri:
mencari makanan jika lapar, menjaga diri agar
tetap sehat, dan sebagainya.
b. dorongan nafsu menngembangkan diri.
Dorongan ingin tahu, melatih dan mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya.
Pada manusia dorongan inilah yang menjadikan kebudayaan manusia makin maju dan
makin tinggi.
c. dorongan nafsu mempertahankan
jenis: manusia ataupun hewan secra sadar ataupun tidak
sadar , selalu menjaga agar jenisnya atau keturunannya tetap berkembang dan
hidup. Dorongan nafsu ini antara lain terjelma dalam adanya perjodohan dan
perkawinan serta dorongan untuk memeilihara dan mendidik anak-anak.
Adapula yang membagi
dorongan nafsu itu mejadi 4 macam sebagai berikut :
a. Dorongan nafsu vital (hayati) : ialah
daya pendorong dalam diri manusia yang diarahkan pada tercapainya nilai – nilai
atau benda – benda yang berfaedah bagi organism (jasad).
b. Dorongan nafsu egois: Istilah
ini jangan dikacaukan dengan istilah yang dipakai sehari – hari, yang berarti
hasrat mementingkan diri sendiri. Nafsu egois ini diberi demikian, karena yang
menjadi tujuan dari nafsu itu ialah perkembangan diri pribadi sebagai
seseorang, keinsyafan akan “kesadaran pribadi”. Nafsu ini mendorong manusia
kepada penghayatan akan kepercayaan kepada diri sendiri, menghargai diri,
kemerdekaan batin, dan perasaan tanggung jawab.
c. Dorongan nafsu sosial: Nafsu
ini menyatakan akan kebutuhan sosial/pergaulan di dalam hidup bersama,
penyesuaian diri dengan dan pengabdian diri kepada masyarakat. Hidup dorongan
nafsu sosial, mendorong manusia berkumpul dan mengadakan kontak dengan manusia
lain, berupa persahabatan, perkawinan dan sebagainya yang memungkinkan hidup
bermasyarakat. Jelas bahwa dorongan nafsu egois deng n dorongan nafsu sosial
itu bukan merupakan suatu pertentangan (berlawanan) melainkan keduanya saling
mengisi satu sama lain. Tidak mungkin adanya hasrat sosial tanpa adanya keinsafan
akan harga diri.
d. Dorongan nafsu supra sosial:
Dorongan nafsu ini diarahkan kepada penghayatan atas perhubungan dengan Yang
Maha Kuasa, sebagai asal sesuatu yang ada. Disini terletak segala penghayatan
religius (keagamaan), yang dapat menjelma menjadi kepercayaan terhadap salah
satu agama. Hidup nafsu ini membawa manusia kepada penyerahan diri seluruhnya,
sebagai tujuan manusia yang tertinggi dan terakhir.
2.
Daya-daya/alat-alat
Interaksi Manusia dengan Dunia Luar
a. Pengamatan
Pengamatan
ialah suatu daya jiwa untuk memasukkan kesan-kesan dari luar melaui/dengan
menggunakan alat indera. Pengamatan merupakan dasar bagi setiap pengalaman dan
pengetahuan seseorang. Fungsi pengamatan ini disebut fungsi reseptif (menerima) dan berlaku pada masa sekarang. Ada 4 faktor yang memungkinkan terjadinya suatu
pengamatan : perangsanng (stimulus –
benda yang diamati), alat indera – otak –
dan perhatian.
b. Ingatan
Kesan-kesan
yg tertinggal dari pengamatan di dalam diri manusia yg berupa
tanggapan-tanggapan maupun pengertian itu disimpan untuk sewaktu – waktu
dikeluarkan lagi. Daya untuk menyimpan dan mengeluarkan kesan – kesan itu
disebut daya ingatan. Fungsi ingatan tidak terikat oleh waktu dan tempat serta
berhubungan dengan waktu lampau. Sifat-sifat ingatan pada tiap-tiap orang
berbeda-beda. Dari hasil penyelidkan psikologi dapat kita ketahui, bahwa
ingatan pada anak – anak di bawah umur 10 tahun pada umumnya masih bercampur
dan dikuasai oleh fantasinya. Ingatan anak (terutama ingatan mekanis)
berkembang dengan baik di antara umur 10 – 14 tahun. Di atas umur 14 tahun
kekuatan menerima pelajaran masih selalu
bertambah, tetapi kekuatan mengingat – ingat makin berkurang (terutama
mekanisnya). Pada anak pubertas dan pada orang dewasa ingatan mekanis berangsur-angsur menjadi kurang kekuatannya dan
makin berubah menjadi ingatan logis ingatan
yang berdasarkan pengertian.
c. Fantasi
Fantasi
ialah daya jiwa untuk menciptakan tanggapan – tanggapan atau kesan – kesan yang
baru dengan bantuan tanggapan – tanggapan yang sudah ada. Di dalam fungsinya
daya fantasi menyertai daya pengamatan dan daya pemikiran manusia. Ada 2
pendapat yang bertentangan terhadap perkembangan dan gunanya fantasi itu bagi
manusia.
Montessori ,
seorang ahli didik Italia yg mendirikan Taman Kanak-Kanak atau Casa dei
Bambini, berpendapat bahwa fantasi itu tidak baik dikembangkan pada diri
anak-anak karena menurut pendapatnya melatih berfantasi pada anak – anak itu
berarti mengajar berdusta. Akan tetapi Frobel
yg juga sebagai ahli didi (Jerman) yg mendirikan Taman Kanak-Kanak
(Kindergarten) berpendapat yang sebaliknya. Menurutnya fabtasi itu dan penting
sekali dikembangkan pada diri anak – anak. Itulah sebabnya di sekolah Frobel
anak-anak diperbolehkan memilih dan dan menggunakan alat-alat permainan di
sekolahnya dengan bebas. Di sekolah Montesori alat-alat sekolahnya hanya boleh
digunakan untuk keperluan/pekerjaan tertentu, seperti yg telah ditetapkan.
d. Perasaan
Perasaan
adalah gema psikis yang biasanya selalu menyertai setiap pengalaman dan setiap
daya – daya psikis yang lain. Gejala – gejala perasaan itu biasanya disertai
dengan gejala – gejala jasmaniah. Intensitas
perasaan: kuat lemahnya perasaan yang dihayati seseorang. Tiap perasaan
selalu berubah – ubah intensitasnya. Kadang – kadag menjadi kuat, kadang – kadang
menjadi lemah. Hal ini tergantung kepada/dipengaruhi keadaan jasmani dan rohani
kita, dan bagaimana situasi yang kita hadapi.
BAB IV
BERFIKIR
1)
Bahasa
dan Berfikir
Berfikir
adalah daya yang paling utama dan merupakan ciri yang khas yang membedakan
manusia dari hewan. Manusia dapat berpikir karena manusia mempunyai bahasa,
hewan tidak. “Bahasa” hewan adalah bahasa insthink
yang tida perlu dipelajari dan di ajarkan. Bahasa manusia adalah hasil
kebudayaan yang harus dipelajari dan diajarkan.
Dengan
singkat, karena memiliki dan mampu berbahasa maka manusia berpikir. Bahasa
adalah alat yang terpenting bagi berpikir. Tanpa bahasa manusia tidak dapat
berfikir. Karena erat hubungannya antara bahsa dan berfikir itu, Plato pernah
mengatakan dalam bukunya Sophistes “berbicara itu berfikir yang keras
(terdengar), dan berfikir itu adalah “berbicara batin”.
2)
Apakah
Berfikir Itu?
Berfikir adalah satu
keaktifan pribadi manusia yang menngakibatkan penemuan yang terarah kepada
suatu tujuan. Kita berfikir untuk menemukan pemahaman/pengertian yang kita
kehendaki.
3)
Pendapat
Beberapa Aliran Psikologi tentang Berfikir
a.
Psikologi
Asosiasi mengemukakan, bahwa perfikir itu tidak lain dari
pada jalannya tanggapan-tanggapan yang dikuasai oleh hukum asosiasi. Aliran
psikologi asosiasi berpendapat bahwa dalam alam kejiwaan yang penting ialah
terjadinya, tersimpanya dan bekerjanya tanggapan-tanggapan. Pendapat inilah
yang kemudian menimbulkan pendidikan dan pengajaranyang bersifat intelektualisitis dan verbalistis. Tokoh yang terkenal dalam
aliran ini ialah John Locke (1632-1704) dan Herbart (1770-1841). Dengan adanya
eksperimen – eksperimen yang dilakukan oleh para ahli psikologi kemudian
pendapat aliran ini tidak dapat dipertahankan lagi.
b.
Aliran
Behaviorisme: berpendapat bahwa “berfikir” adalah
gerakan-gerakan reaksi yang dilakukan oleh urat syaraf dan otot-otot bicara
seperti halnya bila kita mengucapkan “buah pikiran”. Jadi menurut Behaviorisme
“berfikir” tidak lain adalah berbicara. Pada Behaviorisme u sur yang paling
sederhana itu adalah refleks. Refleks
adalah gerakan/reaksi taksadar yang disebabkan adanya perangsang dari luar.
Dalam penyelidikan terhadap tingkah laku manusia, Behaviorisme hanya mau tahu
soal tingkah laku luar (badaniah) saja.
c.
Psikologi
Gestalt memandang bahwa gestalt yang teratur mempunyai
peranan yang besar dalam berpikir. Psikolo gestalt berpendapat bahwa proses berfikirpun seperti
proses gejala – gejala psikis yang lain – merupakan suatu kebulatan. Penganut
psiklogi gestalt memandang berfikir itu merupakan keaktifan psikis yang
abstrak, yg prosesnya tidak dapat kita amati dengan alat indera kita. Proses
belajar itu dilukiskan sebagai berikut: “Jika dalam diri seseorang timbul suatu
masalah yang harus di pecahkan, terjadilah lebih dahulu suatu skema/bagan yang
masih agak kabur-kabur. Bagan itu dipecahkan dan di banding-bandingkan dengan
seksama.
d.
Para ahli – ahli psikologi sekarang
sependapat bahwa proses berfikir pada taraf yang tinggi pada umumnya melalui
tahap-tahap sebagai berikut:
1) Timbulnya
masalah, kesulitan yang harus dipecahkan,
2) Mencari
danmengumpulkan fakta-fakta yang dianggap ada sangkut pautnya dengan pemecahan
masalah,
3) Taraf
pengelohan atau pecernaan; fakta diolah dan dicernakan,
4) Taraf
penemuan atau pemahaman; menemukan cara memecahkan masalah,
5) Menilai,
menyempurnakan dan mencocokkan hasil penyempurnaan.
4)
Beberapa
Macam Cara Berfikir
a.
Berfikir Induktif
Berfikir
induktif ialah suatu proses dalam berfikir yang berlangsung dari khusus menuju
kepada yang umum. Orang mencari ciri-ciri atu sifat-sifat yang tertentu dari
berbagai fenomena, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan bahwa
ciri-ciri/sifat-sifat itu terdapat pada semua jenis fenomena tadi.
b.
Berfikir Deduktif
Berfikir
deduktif prosesnya berlangsung dari yang umum menuju kepada yang khusus. Dalam
cara berfikir ini, orang bertolak dari suatu teori ataupun prinsip ataupun
kesimpulan yang dianggapnya benar dan sudah bersifat umum. Dari situ ia
menerapkannya kepada fenomena – fenomena yg khusus, dan mengambil kesimpulan
khusus yang berlaku bagi fenomena tersebut.
c.
Berfikir Analogis
Analogi
berarti persamaan atau perbandingan, Berfikir analogis ialah berfikir dengan
jalan menyamakan atau memperbandingkan fenemona-fenomena yang biasa/pernah
dialami. Di dalam cara berfikir ini, orang beranggapan bahwa kebenaran dari
fenomena – fenomena yg pernah dialaminya berlaku pula bagi fenomena yg dihadapi
sekarang.
5)
Hasil-hasil
Penyelidikan tentang Berfikir
a.
Oswald Kulpe dengan
rekan-rekannya, setelah mengadakan eksperimen-eksperimen terhadap
mahasiswa-mahasiswanya dengan menggunakan metode instropeksi-eksperimental,
mendapat kesimpulan sebagai berikut:
1) Bahwa
di dalam diri manusia terdapat adanya gejala-gejala psikis yg tidak dapat
diragukan. Disamping kesan-kesan dan tanggapan-tanggapan yg diperoleh dengan
alat indra masih ada gejala-gejala yg lebih abstrak dan tidak dapat diragukan.
Hal demikian terjadi antara lain waktu orang berfikir.
2) Bahwa
pada waktu berfikir, aku atau pribadi orang itu memegang peranan yang penting.
Si “aku” bukanlah faktor yang pasif (seperti pendapat psikologi asosiasi),
melainkan merupakan faktor yang mengemudikan semua perbuatan sadar.
3) Bahwa
berfikir itu mempunyai arah tujuan yang tertentu (determine rende tendens).
Arah tujuan berfikir itu ditentukan / dipengaruhi oleh soal atau masalah yang harus di pecahkannya.
b.
Frohn dan
kawan – kawannya, setelah menyelidiki bagaimana proses dan perkembangan berfikir pada anak – anak yang bisu tuli dan
membandingkannya dengan anak-anak yang normal, mengambil kesimpulan sebagai
berikut:
‘Berfikir
ialah bekerja dengan unsur-unsur yg abstrak dan bergerak ke arah yang
ditentukan oleh soal/masalah yg dihadapi. Tetapi anak-anak kecil, anak-anak yg
terbelakang, dan anak-anak yg bisu-tuli, dalam berfikir itu tidak dapat
melepaskan diri dari baying-bayang/tanggapan-tanggapan kongkret. Karena itu
mereka tidak dapat membentuk pikiran-pikiran yg logis dan umum.
c. Otto
Selz dan Willwoll
Dari
penyelidikan tehadap peranan tanggapan
dalam proses berfikir, mereka mengambil kesimpulan sebagai berikut :
Selz : Bahwa
tanggapan-tanggapan kongkret tidak mempunyai pengaruh sama sekali atau hanya
sedikit sekali pengaruhnya dalam proses berfikir. Tanggapan konkret tidak amat
melancarkan dan tidak pula amat merintangi jalannya pikiran.
Willwoll: Bahwa
tanggapan-tanggapan kongkret dapat mengganggu dan menghabat jalannya berfikir.
Tanggapan-tanggapan kongkret baru berharga sesudah bagian-bagiannya yg tidak
perlu telah dihilangkan oleh tenaga jiwa kita, sehingga tinggal sarinya yang
asli saja.
d. Hasil-hasil
penyelidika berfikir yg telah disebutkan di atas, berpengaruh besar sekali
terhadap perbaikan cara-cara mendidik dan mengajar di sekolah-sekolah. Dalam
mendidik dan mengajar, pendidik tidak cukup hanya mengisikan pengetahuan atau
tanggapan-tanggapan yg banyak ke dalam otak anak-anak. Anak harus diajar
berfikir dengan baik.
BAB
V
INTELEJENSI
1.
Apakah
Intelejensi Itu?
Intelejensi
ialah kemampuan yang dibawa sejak lahir, yang memungkinkan seseorang berbuat
sesuatu dengan cara tertentu. William
Stern berpendapat bahwa intelejensi ialah kesanggupan untuk menyelesaikan
diri kepada kebutuhan baru, dengan menggunakan alat-alat berfikir yang sesuai
dengan tujuannya.
2.
Percobaan-percobaan
kohler tentang intelejensi
Dalam penyelidikannya
tentang intelejensi, kohler mengadakan eksperimen-eksperimen dengan hewan
seekor simpanse yang di beri makan dengan pisang. Simpanse yang berada di dalam
kandang di beri makan pisang lebih jauh dari kandang (bagaimana simpanse
mengambil pisang dengan jarak yang jauh)
3.
Apakah
Ciri-ciri Perbuatan Intelijen ?
a.
Masalah
yang dihadapi banyak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang
bersangkutan.
b.
Perbuatan
intelijen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis
c.
Masalah
yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.
d.
Keterangan
pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat.
e.
Dalam
berbuat intelijen seringkali menggunakan daya mengabstraksi.
f.
Perbuatan
intelijen bercirikan kecepatan
g.
Membutuhkan
pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya
pemecahan masalah yang dihadapi.
4.
Faktor-faktor
Apakah yang Mempengaruhi Intelijensi Seseorang ?
a.
Pembawaan
b.
Kematangan
c.
Pembentukan
d.
Minat
dan Pembawaan yang khas
e.
Kebebasan
5.
Tes
Intelijensi
Orang
yg menemukan tes intelijensi pertama kalinya ialah seorang dokter bangsa
Perancis Alferd Binet dan pembantunya
Simon. Sehingga tesnya terkenal
dengan nama Tes Binet Simon. Tes ini
diberi nama “Chelle matrique de I’intelegence” atau Skala Pengukuran
Kecerdasan. Tes Binet Simon ini terdiri dari sekumpulan pertanyaan –pertanyaan
yg telah dikelompokan menurut umur. Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dibuat
mengenai segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran di sekolah.
6.
Hasil-hasil
Penyelidikan Intelijensi
a. Mungkin
ada benarnya, pendapat yang mengatakan intelijensi itu bergantung kepada dasar
dan keturunan (hereditas);
b. Tercapai
atau tidaknya batas kecerdasan atau batas kemapuan pikiran seseorang yang
dipengaruhi pula oleh faktor-faktor dariluar.
c. Adanya
kekuatan tumbuh dari dalam itu harus kita akui, tiap – tiap anak mengalami
perkembangan dalm perkembangan intelijensinya.
d. Mendapatkan
sendiri suatu paham yang baru adalah jauh lebih sukar daripada pemahaman
pendapat-pendapat oranglain yang sudah ada.
7.
Bagaimana
Hubungan Intelijensi dengan Kehidupan Seseorang ?
Kecerdasan
atau intelijensi seseorang memberi kemungkinan bergerak dan berkembang dalam
bidang tertentu dalam kehidupannya. Sampai dimana kemungkinan tadi dapat di
realisasikan, tergantung pula kepada kehendak dan pribadi serta kesempatan yang
ada. Jelaslah sekarang bahwa tidak terdapat korelasi yang tetap antara
tingkatan intelijensi dengan tingkatan hidup seseorang. Dari hasil-hasil
penyelidikan yang dilakukan ahli antropologi dan psikologi, juga masih
disangsikan adanya korelasi yang tetap antara bentuk/berat otak dengan
intelijensi, antara bentuk tubuh dengan dasar kejahatan dan antara intelijensi
dengan kemiskinan.
BAB
VI
MOTIVASI
1.
Apakah
Motivasi Itu ?
Sartain
mengatakan : pada umumnya suatu motivasi atau dorongan adalah suatu pernyataan
yang kompleks di dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap
suatu tujuan (goal) atau perangsang (incentive). Tujuan (goal) adalah yang
menentukan/membatasi tingkah laku organisme itu. Jika yang kita tekankan adalah
faktana/objeknya, yang menarik organism itu, maka kita gunakan istilah
“perangsang” (incentive).
2.
Klasifikasi
Motif-motif
a. Sartain
membagi motif-motif itu menjadi dua golongan sebagai berikut :
-
Physiological
drive, ialah dorongan – dorongan yang bersifat
fisiologis/jasmaniah, seperti lapar, haus, dan sebagainya
-
Social
motives, ialah dorongan-dorongan yang ada hubungannya
dengan manusia yang lain dalam masyarakat, seperti : dorongan estetis, dorongan
selalu ingin berbuat baik, dan sebagainya.
b. Woodworth mengadakan
klasifikasi motif-motif sebagai berikut : Mula-mula ia membedakan/membagi
motif-motif itu menjadi dua bagian : unlearned
motives (motif-motif pokok yang tidak dipelajari) dan learned motives (motif-motif yang dipelajari).
Yang dimaksud ke dalam unlarned motives ialah motif-motif yang
timbul disebabkan oleh kekurangan-kekurangan/kebutuhan-kebutuhan dalam tubuh,
seperti lapar, haus, dan sebgainya yang semuanya itu menimbulkan dorongan dalam
diri untuk minta supaya dipenuhi, atau menjauhkan diri daripadanya.
Selanjutnya Woodworth menyatakan bahwa
motif-motif pada seseorang itu berkembang melalui kematangan, latihan, dan melalui belajar. Dengan melalui latihan dan kehidupan sehari-hari, maka unlearned motives pada seseorang makin
berkembang dan mengalami perubahan-perubahan seperti berikut :
1)
Tujuan-tujuan dan motif-motif menjadi
lebih mengkhusus.
2)
motif-motif itu makin berkombinasi
menjadi motif-motif yang lebih kompleks.
3)
tujuan-tujuan perantara, dapat
menjadi/berubah menjadi tujuan yang sebenarnya.
4)
motif-motif itu dapat timbul karena
adanya perangsang-perangsang baru
c. Motif-motif
itu dapat pula dibedakan sebagai berikut
:
1)
motif instrinsik, dan
2)
motif ekstrinsik
3.
Bagaimana
Hubungan Motif-motif dengan Minat (Interest) ?
Motif-motif
obyektif menyatakan diri dalam kecenderungan-kecenderungan umum untuk menyelidiki dan mempergunakan lingkungan. Motif menyelidiki adalah jelas tampak
pada hewan dan pada manusia. Dalam kenyataan sehari-hari motif mempergunakan
lingkungan dan motif menyelidiki itu seringkali menjadi satu. Dari eksplorasi dan manipulasi yang
dilakukan anak-anak itu lama-lama timbullah minat terhadap sesuatu. (Ingat
peribahasa Jawa, witing tresno jalaran saka kulino). Dari pengalaman itu anak
berkembang kea rah berminta/tidak berminat kepada sesuatu.
4.
Pertentangan
(Konflik) antara Motif-Motif
Sartain
membedakan
3 macam konflik/pertentangan antara motif-motif itu sebagai berikut:
a.
Approach
– avoidance conflict
Pertentangan
pertama ini merupakan pertentangan antara motif-motif yang saling berlawanan
maksud atau tujuannya. Dalam konflik ini yang menjadi objek atau tujuannya
adalah sama (satu).
b.
Approach
– approach conflict
Pertentangan
macam kedua ini dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Convergent approach – approach
conflict, terjadi bila dua motif uang bertentangan satu sama
lain mendorong seseorang kepada objek tujuan yang sama.
2. Divergent approach – approach
conflict, pada konflik ini terdapat dua motif dan satu tujuan
yang bersaingan satu sama lain dalam satu saat yang sama.
c.
Pada konflik macam ketiga
(avoidance-avoidance), terdapat dua objek – tujuan yang kedua-duanya tidak
diinginkan, tetapi salah satu di antaranya harus dipilih.
5.
Motif-motif
yang Disadari dan Tidak Disadari
Adler
dan Kunkel menyatakan bahwa di dalam tingkah laku atau perbuatan-perbuatan
manusia dapat dibedakan adanya dua tujuan, “tujuan semu” dan “tujuan
sebenarnya”. Suatu perbuatan dikatakan bertujuan semu, jika tujuan (motif) yang
hendak dicapai bukan tujuan (motif) yang menjadi pangkal hidupnya yang sebenarnya.
Tujuan semu itu gunanya hanya untuk menyembunyikan motif tidak sadar yang
kurang baik.
6.
Apakah
Fungsi/Gunanya Motif-motif Itu?
Guna
/ fungsi dari motif – motif itu ialah :
a.
Motif itu mendorong manusia untuk berbuat/bertindak.
b.
Motif itu menentukan arah perbuatan.
c.
Motif itu menyeleksi perbuatan kita.
7.
Motif
dan Motifasi
Motif menunjukkan
suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang
tersebut mau bertindak melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah “pendorongan”; suatu usaha yang disadari untuk
mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak
melakukan sesuatu hingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Menurut
kebanyakan definisi, motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu :
-
Menggerakan
berarti
menimbulkan kekuatan pada individu; memimpin seseorang untuk bertindak dengan
cara tertentu
-
Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku.
-
Untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar hatus menguatkan
(reinforce) intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan
individu.
Hoy
dan Miskel dalam buku Educational
Administration (1982 : 137) mengemukakan bahwa “motivasi dapat
didefinisikan sebagai kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorongan-dorongan,
kebutuhan-kebutuhan, pernyataan-pernyataan ketegangan, atau mekanisme-mekanisme
lainnya yg memulai dan menjaga kegiatan-kegiatan yang di inginkan kea rah
pencapaian tujuan-tujua personal”.
8.
Tujuan
Motivasi
Secara
umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakan atau menggugah seseorang agar
timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan ssesuatu sehingga dapat
memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu. Bagi seorang guru tujuan
motivasi adalah untuk menggerakan atau memacu para siswanya agar timbul
keinginandan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga
tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan di
dalam kurikulum sekolah. Tindakan
memotivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan di sadari oleh
yang dimotivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang dimotivasi.
9.
Teori
Motivasi
a.
Teori
Hedonisme
Hedone
adalah Bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan, atau kenikmatan.
Hedonisme adalah suatu aliran dalam filasafat yang memandang bahwa tujuan hidup
yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat
duniawi. Menurut padangan hedonisme, manusia pada hakikatnya adalah makhluk
yang mementingkan kehidupannya yang penuh kesenangan dan kenikmatan.
Implikasi
dari teori ini adalah adanya anggapan bahwa semua orang akan cenderung
menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, ataua yang mengandung resiko
berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya.
b.
Teori
Naluri
Pada
dasarnya manusia memiliki tiga dorongan nafsu pokok (naluri) yaitu :
-
dorongan nafsu (naluri) mempertahankan
diri,
-
dorongan nafsu (naluri) mengembangkan
diri, dan
-
dorongan nafsu (naluri)
mengembangkan/mempertahankan jenis.
Dengan
dimilikinya ketiga naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan ataupun
tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari
mendapat dorongan atau digerakan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh karena itu,
menurut teori ini, untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana
yang akan dituju dan perlu dikembangkan.
c.
Teori
Reaksi yang Dipelajari
Teori
ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan
naluri-naluri, tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari
kebudayaan di tempat orang itu hidup. Teori ini disebut juga sebagai teori lingkungan kebudayaan. Menurut
teori ini apabila seorang pemimpin ataupun seorang pendidik akan memotivasi
anak buah atau anak didiknya, pemimpin ataupun pendidik itu hendaknya
mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang
dipimpinnya.
d.
Teori
Daya Pendorong
Teori
ini merupakan perpaduan antara “teori naluri” dengan “teori reaksi yang
dipelajari”. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan
kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Oleh karena itu, menurut
teori ini, bila seorang pemimpin ataupun pendidik ingin memotivasi anak
buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong, yaitu atas naluri dan
juga rekasi yang dipelajari ari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya.
e.
Teori
Kebutuhan
Teori
ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya
adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan
psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seorang pemimpin ataupun
pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang,ia harus berusaha
mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan – kebutuhan orang yang akan
dimotivasinya.
f.
Teori
Abraham Maslow
Maslow mengemukakan
adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia, yaitu :
1)
Kebutuhan fisiologis: kebutuhan dasar,
yang bersifat primer dan vital.
2)
Kebutuhan rasa aman dan perlindungan
(safety and security).
3)
Kebutuhan sosial (social needs), yang
meliputi kebutuhan akan dicintai, diakui, dan sebgainya.
4)
Kebutuhan akan penghargaan (esteem
needs).
5)
Kebutuhan akan aktualisasi diri (self
actualization).
10. Beberapa Saran bagi Pengembangan
Motivasi dalam Pendidikan
Untuk
mengembangkan motivasi yang baik pada anak-anak didik kita, di smping kita
harus menjauhkan saran-saran atau sugesti yang negative yang dilarang oleh
agama atau yang bersifat asocial dan dursusila, yang lebih penting lagi adalah
membina pribadi anak didik agar dalam diri anak – anak terbentuk adanya
motif-motif yang mulia, luhur, dan dapat diterima di masyarakat. Kita dapat
mengatur dan menyediakan situasi-situasi yang memungkinkan timbulnya persaingan
atau kompetensi yang sehat antar anak didik kita, membangjitkan self-competition dengan jalan
menimbulkan perasaan puas terhadap hasil-hasil dan prestasi yang telah mereka
capai, betapa pun kecil sedikitnya hasil yang dicapai itu. Pada umumnya
motivasi instrinsik lebih kuat dan lebih baik dari pada motivasi ekstrinsik
oleh karena itu, bangunkanlah motivasi instrinsik pada anak-anak didik kita.
BAB VII
BELAJAR
1. Pengertian Belajar
a.
Higard
dan Bower dalam bukunya Theories
of Learning (1975) mengemukakan; “Belajar berhubungan dengan perubahan
tingkah lakuseseotang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh
pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah
laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan,
kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh
obat dan sebagainya)”.
b.
Gagne,
dalam
buku The Conditions of Learning
(1977) menyatalan bahwa: “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama
dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya
berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia
mengalami situasi tadi”.
2. Bagaimana Proses Belajar Itu
Berlangsung ?
Beberapa
macam cara penyesuaian diri yang dilakukan manusia dengan sengaja maupun tidak
sengaja, dan bagaimana hubungannya dengan belajar.
1. Belajar
dan Kematangan
2. Belajar
dan Penyesuaian Diri
3. Belajar
dan Pengalaman
4. Belajar
dan Bermain
5. Belajar
dan Pengertian
6. Belajar
dan Menghafal/Mengingat
7. Belajar
dan Latihan
3. Beberapa Teori Belajar
Teori
belajar yang terkenal dalam psikologi antara lain ialah :
a.
Teori
Conditioning
1)
Teori
Classical Conditioning (Pavlov dan Watson)
Menurut
teori ini conditioning belajar itu
adalah suatu proses yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan reaksi
(response). Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia
juga tidak lain adalah hasil dari pada conditioning.
Yakni hasil dari pada latihan-latihan atau kebiasaan mereaksi terhadap
syarat-syarat/perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya di dalam
kehidupannya. Kelemahan teori ini ialah, teori ini menganggap bahwa belajar itu
hanyalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak
dihiraukannya.
2)
Teori
Conditioning dari Guthrie
Guthrie
mengemukakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang
sebagai deretan-deretan tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Unit-unit
tingkah laku ini merupakan reaksi/respon dari perangsang/stimulus sebelumnya,
dan kemudian unit tersebut menjadi pula stimulus yang kemudian menimbulkan
response bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Jadi pada proses conditioning
ini pada umumnya terjadi proses asosiasi antara
unit-unit tingkah laku satu sama lain yang berurutan.
3)
Teori
Operant Conditioning (Skinner)
Skinner
membedakan adanya dua macam respons, yaitu :
a. Respondent response : respon
yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Misalnya keluar air liur
setelah melihat makanan tertentu.
b. Operant response:
Yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang
tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforrcer.
4)
Teori
Systematic Bahavior (Hull)
Clack
C. Hull mengemukakakn teorinya, yaitu bahwa suatu kebutuhan atau “keadaan terdorong” (oleh motif, tujuan, maksud,
aspirasi, ambisi) harus ada dalam diri seseorang yang belajar, sebelum suatu
respon dapat diperkuat atas dasar penngurangan
kebutuhan itu. Jadi, prinsip yang utama adalah: suatu kebutuhan atau motif
harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi; dan bahwa apa yang
dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai suatu yang dapat
mengurangi kekuatan kebutuhannya atau memuaskan kebutuhannya. Dua hal yang
sangat penting dalam proses belajar dari Hull ialah adanya incentive motivation (motivasi insentif) dan drive stimulus reduction (pengurangan stimulus pendorong).
5)
Teori
Connectionism (Thorndike)
Menurut
teori trial and error ini, setiap
organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan
yang sifatnya coba-coba secara membabi buta.
6)
Teori
Belajar menurut Psikologi Gestalt
Teori
ini seringpula disebut field theory atau
insight full learning. Menurut para
ahli psikologi Gestalt, manusia itu bukanlah hanya sekedar makhluk reaksi yang
hanya berbuat atau bereaksi jika ada perangsang yang mempengaruhinya. Dengan
demikian maka belajar menurut Psikologi Gestalt bukan hanya sekedar merupakan
proses asosiasi antara stimulus-respon yang makin kuat karena adanya
latihan-latihan atau ulangan-ulangan. Belajar menurut psikologi Gestalt terjadi
jika ada pengertian (insight), yang
muncul apabila seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu masalah,
tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat oleh hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian di
pahami sangkut pautnya, dimengerti maknanya.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Belajar
a.
Faktor yang ada pada diri organisme itu
sendiri yang kita sebut faktor individual,
yang termasuk ke dalam faktor individual antara lain :
-
faktor kematangan/pertumbuhan
-
kecerdasan/intelejensi
-
latihan dan ulangan
-
motivasi
-
sifat-sifat pribadi seseorang
b.
Faktor yang ada di luar individu yang
kita sebut faktor sosial, yang
termasuk kedalam faktor sosial antara lain :
-
keadaan keluarga
-
guru dan cara mengajar
-
alat-alat pelajaran
-
motivasi sosial
-
lingkungan dan kesempatan
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Proses dan Hasil Belajar (Rangkuman)

Gambar
di atas menunjukkan bahwa masukan mentah (raw input) merupakan bahan baku yang
perlu diolah, dalam hal ini di beri pengalaman belajar tertentu dalam proses
belajar-mengajar (teaching-learning procces). Terhadap/di dala proses
belajar-mengajar itu turut berpengaruh pula sejumlah faktor lingkungan yang
merupakan masukan lingkungan (environmental input), dan berfungsi sejumlah
faktor yang sengaja dirancang dan dimanipulasikan (instrumental input) guna
menunjang tercapainya keluaran yang dikehendaki (output). Berbagai faktor
tersebut berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan keluaran tertentu.
Disamping
itu, masih ada lagi faktor lain yang dapat mempengaruhi proses dan hasil
belajar pada setiap dapat di ikhtisarkan sebagai berikut :

6.
Transfer
dan Lupa dalam Belajar
a.
Transfer
Belajar
Transfer
belajar terjadi apabila seseorang dapat menerapkan sebagian atau semua
kecakapan-kecakapan yang telah dipelajarinya ke dalam situasi lain yang
tertentu. Biasanya transfer ini terjadi karena adanya persamaan sifat antara
yang lama dengan yang baru, meskipun tidak benar-benar sama. Terjadinya
transfer dalam belajar tergantung kepada cara individu itu mengamati dan
mengalami kedua situasi yang telah dan yang akan dipelajarinya, dan tergantung
pula kepada sifat dari kedua situasi itu dan cara bagaimana individu itu
belajar
b.
Teori
Daya dan Transfer
Menurut
teori daya(formal discipline),
daya-daya jiwa yang ada pada manusia itu dapat dilatih. Menurut teori daya pada
tiap matapelajaran di sekolah pendidik perlu melatih daya-daya itu (daya
ingatan, berfikir, merasakan, dsb, sehingga daya-daya yang sudah terlatih itu
akan dapat digunakan dalam mata-mata pelajaran yang lain dan juga bagi
pekerjaan-pekerjaan lain di luar sekolah.
Penganut teori daya beranggapan bahwa anak-anak yang pandai di sekolah
sudah tentu akan pandai pula dalam masyarakat.
Teori
daya terlalu mementingkan nilai formal dalam tiap-tiap mata pelajaran di
sekolah. Pandangan inilah yang menimbulkan cara-cara mengajar yang bersifat
verbalistis dan intelektualistis, yang hingga kini masih merajalela dalam dunia
pendidikan disekolah – sekolah pada umumnya.
c.
Perihal
Lupa
Setelah
di adakannya penyelidikan , ternyata orang cenderung lebih menerima bahwa lupa
itu tergantung kepada :
1) apa
yang diamati
2) bagaimana
situasi dan proses pengamatan itu berlangsung,
3) apakah
yang tejadi dalam jangka waktu berselang itu, dan
4) bagaimana
situasi ketika berlangsungnya ingatan itu.
7.
Cara-cara
Belajar yang Baik
Dr.
Rudolf Pintner mengemukakan sepuluh
macam metode di dalam belajar, seperti berikut :
a.
Metode
keseluruhan kepada bagian
b.
Metode
keseluruhan lawan bagian
c.
Metode
campuran antara keseluruhan dan bagian
d.
Metode
resitasi (mengulangi)
e.
Jangka
waktu belajar
f.
Pembagian
waktu belajar
g.
Membatasi
kelupaan
h.
Menghafal
i.
Kecepatan
belajar dalaam hubungannya dengan ingatan
j.
Retroactive
inhibition
8.
Saran
– saran untuk Membiasakan Belajar yang Efisien
Berikut
adalah saran-saran yang di kemukakan Crow and Crow dengan singkat dan terinci
untuk mencapai hasil belajar yang lebih efisien.
1)
miliki dahulu tujuan belajar yang pasti
2)
usahakan adanya tempat belajar yang
memadai
3)
jaga kondisi fisik jangan sampai
mengganggu konsentrasi dan keaktifan mental
4)
rencanakan dan ikutilah jadwal untuk
belajar
5)
selingilah belajar itu dengan
waktu-waktu istirahat yang teratur
6)
carilah kalimat-kalimat topik atau inti
pengertian dari tiap paragraph
7)
selama belajar gunaka metode pengulangan
dalam hati
8)
lakukan metode keseluruhan bilamana
mungkin
9)
usahakan agar dapat membaca cepat tetapi
cermat
10)
buatlah
catatan – catatan atau rangkuman yang tersusun rapi
11)
Dll.
BAB VIII
THE SELF DAN FRUSTASI
A.
THE
SELF
1.
Apakah
yang Dimaksud dengan The Self ?
Menurut
Sartain the self adalah individu sebagaimana dipandang/diketahui dan dirasakan
adalah individu itu sendiri. Jadi perkataan the self berarti meliputi semua
penghayatan, anggapan, sikap dan perasaan – perasaan, baik yang disadari maupun
tidak disadari , yang ada pada seseorang tentang dirinya sendiri.
2.
Apakah
Gunanya “The Self” bagi Tiap-tiap Orang ?
Menurut
Sartain cara-cara seseorang mempertahankan (dan kadang-kadang juga untuk
memuaskan) the self dapat dibagi
menjadi empat golongan :
a.
Dengan
menyerang kepada sumber-sumber yang menyebabkan frustasi
b.
Dengan
mengelakkan/menghindarkan diri dari situasinya
c.
Dengan
memeperbaharui/mengubah lingkungan sekitarnya (situasinya)
d.
Dengan
membangun kembali (mengubah) “the self”
B.
FRUSTASI
1.
Apakah
Frustasi Itu ?
Jika
hasrat dalam batin tak dapat diberi kepuasan, tidak dapat terpenuhi karena
suatu rintangan dan kita merasa sangata
kecewa karenanya maka hal itu yang dinamakan frustasi. Jadi, frustasi sebenarnya ialah keadaan batin seseorang,
ketidak seimbangan dalam jiwa, suatu perasaan tidak puas karena hasrat/dorongan
yang tidak dapat terpenuhi. (Frustration = kekecewaan).
2.
Rintangan-rintangan
Manakah yang Dapat Menimbulkan Frustasi ?
Woodworth
dalam bukunya Psychology mengemukakan
bahwa rintangan-rintangan yang dapat menimbulkan frustasi itu dapat di bagi
menjadi 4 golongan besar :
a. Rintangan-rintangan yang bukan
manusia
b. Rintangan-rintangan yang disebabkan
orang lain
c. Pertentangan antara motif-motif
positif yang terdapat dalam diri orang itu
d. Pertentangan antara motif positif
dan motif negative yang terdapat dalam diri orang itu.
3.
Reaksi-reaksi
yang Mungkin Timbul Karena Adanya Frustasi
a.
Agresi,
yaitu
reaksi menentang atau suatu serangan yang bersifat langsung dan tidak langsung.
b.
Mengundurkan
diri
c.
Regresi
(kemunduran)
d.
Fiksasi
(Fixation)
e.
Represi
(Pendesakan)
f.
Gangguan
psikosomatis
g.
Rasionalisasi
h.
Proyeksi
(Projection)
i.
Sublimasi
j.
Kompensasi
k.
Berkhayal
atau melamun (Fantasy or day dreaming)
4.
Pendidikan
dan Frustasi
Supaya
lebih jelas betapa pentingnya soal frustasi irtu bagi pendidikan anak-anak,
juga supaya pembicaraan kita agak sistematis, berturut-turut akan kami uraikan
secara sinngkat :
a. Masyarakat dan Frustasi
Dalam ilmu jiwa sosial diketahui bahwa
manusia menurut pembawaannya adalah makhluk sosial. Suatu masyarakat akan
berjalan dan berkembang dengan baik jika tiap-tiap anggotanya dapat menyesuaikan diri dengan dalam
masyarakat.
Penyesuaian
diri bukanlah hal yang mudah. Sebab, meyesuaikan diri
berarti menjumpai dan menngalami bermacam-macam situasi yang penuh
ketegangan-ketegangan atau frustasi. Peraturan-peraturan dan adat istiadat
serta kehidupan masyarakat itu seringkali bertentangan dengan kehendak
orang-perorang. Seseorang baru dapat dikatakan telah berhasil menyesuaikan
diri, jika telah mengetahui dan dapat menjalankan peranan sosialnya yang sesuai
dengan masyarakat itu.
b. Sekolah dan Frustasi
Di
sekolah lebih banyak peraturan-peraturan dan tugas pekerjaan yang harus
dipatuhi dan dikerjakan daripada di rumah. Peralihan yang sangat mendadak dari
kehidupan rumah tangga ke kehidupan sekolah akan dirasa sangat berat terutama
oleh anak – anak yang baru saja masuk sekolah, jika sekolah tidak dapat
menyesuaikan tugasnya dengan mengingat kehidupan anak itu sebelum masuk
sekolah. Kesimpulannya :
1)
Anak harus berkembang menjadi anggota
masyarakat,
2)
Menyesuaikan diri itu ternyata bukan
soal mudah, sebab menyesuaikan diri berarti berani menghadapi bermacam-macam
situasi yang penuh dengan frustasi dan ketegangan-ketegangan
3)
Sekolah berkewajiban membantu anak dalam
hal “menyesuaikan diri” dalam kehidupan masyarakat.
4)
Dalam menjalankan tugasnya, sekolah
hendaklah mengingat dan berpedoman kepada kehidupan anak sebelum masuk sekolah,
dan mengingat pula tuntutan-tuntutan masyarakat yang harus sudah mulai
dijalankan oleh anak itu di sekolah.
c. Sikap Pendidik
1)
Pendidik tidak boleh bersikap terlalu
keras terhadap anak didiknya
2)
Sebaliknya sikap yang terlalu lunak dan
lemah dari si pendidik tidak dapat dibenarkan pula
BAB IX
KEPRIBADIAN
(PERSONALITY)
1.
Sikap,
Sifat, Tempramen dan Watak
Para
ahli psikologi pada umumnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
kepribadian/personality itu bukan hanya mengenai tingkah laku yang di amati
saja, tetapi juga termasuk didalamnya apakah
sebenarnya individu itu. Sikap atau yang dalam bahasa Inggris disebut attitude adalah suatu cara bereaksi
terhadap suatu perangsang. Menurut Ellis, yang sangat memegang peranan penting
didalam sikap ialah faktor perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah
reaksi/respons, atau kecenderungan untuk bereaksi.
Kata
“sifat” (traits) dalam istilah psikologi, berarti ciri-ciri tingkah laku yang
tetap (hampir tetap) pada seseorang. Secara sederhana dapat dikatakn: sifat
merupakan ciri-ciri tingkah laku atau perbuatan yang banyak di pengaruhi oleh
faktor-faktor dari dalam diri seperti pembawaan, minat, konstitusi tubuh dan
cenderng bersifat tetap/stabil.
Tempramen
adalah sifat-sifat jiwa yang sangat erat hubungannya dengan konstitusi tubuh.
Yang dimaksud dengan konstitusi tubuh disini ialah keadaan jasmani seseorang
yang terlihat dalam hal-hal khas baginya.
.
Pengertian
watak seringkali pula dihubungkan dengan pengertiian moral atau nilai-nilai
etis, yakni apa yang disebut baik dan buruk. I. R. Pedjawijaya mengemukakan :
“Watak atau karakter ialah seluruh aku yang ternyta dalam tindakannya (insane,
jadi dengan pilihan) terlibat dalam situasi, jadi memang di bawah pengaruh dari
dari pihak bakat, tempramen, keadaan tubuh, dsb.
2.
Uraian
Selanjutnya tentang Tempramen dan Watak
Hippocrates dan Galenus (400
S.M dan 175 S.M) mengemukakn bahwa manusia dapat dibagi menjadi 4 golongan,
menurut keadaan zat-zat cair yang ada dalam tubuhnya. Empat golongan tersebut
adalah :
a. Sanguinis (yang
banyak darahnya), sifatnya periang, gembira, optimis, lekas berubah-ubah stemming-nya.
b. Kolerisi
(yang bnyak empedu kuningnya), sifatnya garang, hebat, lekas marah, agresif.
c. Flegmatisi (yang
banyak lendirnya), sifatnya lamban, tenang, tidak mudah berubah.
d. Melankolisi (banyak
empedu hitamnya), sifatnya muram, tidak gembira, pesimistis.
3.
Kepribadian
(Personality)
a. Arti Kepribadian
Menurut asal katanya,
kepribadian atau personality berasal dari bahasa Latin personare yang berarti mengeluarkan suara. Kini kata personality oleh para ahli psikologi
dipakai untuk menunjukkan sesuatu yangnyata dan dapat dipercaya tentang
individu, untuk menggambarkan bagaimana dan apa sebenarya individu itu.
b. Definisi Kepribadian
Kepribadian mengandung
pengertian yang sangat kompleks. Berkali-kali dikatakan, kepribadian itu mencakup
brbagai aspek dan sifat-sifat fisis maupun psikis dari seorang individu.
c. Aspek-aspek Kepribadian
-
sifat-sifat kepribadian
-
intelejensi
-
pernyataan diri dan cara menerima
kesan-kesan
-
kesehatan
-
bentuk tubuh
-
sikapnya terhadap orang lain
-
pengetahuan
-
keterampilan (skills)
-
nilai-nilai
-
penguasaan dan kuat-lemahnya perasaan
-
peranan
-
the self
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi
Kepribadian
1)
Faktor
Biologis, yaitu faktor yang berhubungan dengan keadaan
jasmani, atau seringkali pula disebut faktor fisiologis.
2)
Faktor
Sosial, yang dimaksud dengan faktor sosial disini ialah
masyarakat; yakni manusia-manusia lain disekitar individu yang mempengaruhi
individu yng bermanfaat.
3) Faktor Kebudayaan;
Beberapa
aspek kebudayaan yang sangat
mempengaruhi perkembangan dan pembentukkan kepribadian antara lain :
Ø
nilai-nilai
Ø
adat dan tradisi
Ø
pengetahuan dan tradisi
Ø
bahasa
Ø milik
kebendaan
sangat bermanfaat sekali
BalasHapusMy blog
SANGAT MEMBANTU SEKALI
BalasHapusMy blog
Terimakasih, ini sangat membatu sekali.
BalasHapusMaaf pak, izin bertanya. Kira² bukunya sampai sekarang masih diperjualkan tdk ya?
BalasHapus